BI Menyebut Inflasi Sumbar Masih Kondusif, Kini 1,97% Hingga April 2026
- account_circle Hanny
- calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
- print Cetak

Pasar Tradisional
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Padang, SUMBARBIZ – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Provinsi Sumatra Barat sebesar 1,97% yoy atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,77 pada April 2025 menjadi 111,93 pada April 2026.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin mengatakan inflasi yang terjadi secara yoy hingga April 2026 itu, disumbangkan dari komoditas emas perhiasan, daging ayam ras, beras, hingga minyak goreng, yang tercatat terjadi kenaikan harga. Kondisi ini membuat IHK mengalami kenaikan dibandingkan bulan Maret 2026.
“Kalau secara mtm, Sumbar ini mengalami inflasi sebesar 0,39%. Hingga April 2026, deflasi ytd sebesar 0,43%,” katanya dikutip dari data resmi BPS, Senin (4/5/2026).
Dia menjelaskan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi mtm pada April 2026 angkutan udara, bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, nasi dengan lauk, hingga laptop/notebook.
Menurutnya adanya angkutan udara yang menjadi penyebab inflasi secara mtm pada April 2026, karena dampak dari adanya kebijakan dari pemerintah menaikkan harga avtur, di mana membuat harga tiket pesawat turut naik.
“Jadi selain adanya angkutan udara, komoditas lain yang andil memberikan inflasi juga pada angkutan umum lainnya , seperti tarif kendaraan travel, angkutan antar kota, kendaraan carter,” jelasnya.
Nurul menjelaskan di Sumbar ini terdapat empat wilayah cakupan IHK, semua wilayah mengalami inflasi yoy. Inflasi yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44% dengan IHK sebesar 113,81 dan terendah terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,03%, dengan IHK sebesar 112,82.
Sementara itu, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 2,48% dengan IHK sebesar 111,80 dan Kota Padang mengalami inflasi sebesar 1,97% dengan IHK sebesar 111,41.
Dihubungi terpisah, Kepala Perwakilan BI Sumbar M. Abdul Majid menjelaskan dengan angka inflasi Sumbar yang masih dalam range target yakni 2,5% hingga 1%, jadi masih kondusif guna menjaga daya beli masyarakat dan memperbaiki pertumbuhan ekonomi yang sempat rendah 3,3% pada 2025.
“Kami menargetkan inflasi Sumbar tetap terjaga sepanjang 2026 ini yakni di angka 2,5% hingga 1%. Sementara kini inflasi Sumbar 1,97%, jadi masih sesuai range target,” tegasnya.***
- Penulis: Hanny
- Sumber: Bisnis
