Rilis BPS 2025: Mengurai Ketimpangan Pendidikan dan Kesehatan Pasaman Barat
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- print Cetak

Kantor Bupati Pasaman Barat
SIMPANG AMPEK – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman Barat resmi mempublikasikan laporan Statistik Potensi Desa (Podes) Kabupaten Pasaman Barat 2025. Berdasarkan rilis data pada Bab 3 dokumen tersebut, sektor pendidikan dan kesehatan di wilayah ini menunjukkan grafik perkembangan yang variatif, dengan konsentrasi fasilitas yang masih berpusat di beberapa kecamatan besar.
Data Podes yang merekam kondisi riil di tingkat pemerintahan terendah (Nagari) ini menunjukkan bahwa dari total 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Barat, aspek ketersediaan infrastruktur layanan dasar belum sepenuhnya merata.
Sektor Pendidikan: Kinali Terbanyak, Luhak Nan Duo Paling Lengkap ke Perguruan Tinggi
Di sektor pendidikan formal, Kabupaten Pasaman Barat tercatat memiliki 89 Nagari yang memiliki fasilitas Taman Kanak-Kanak (TK/RA/BA), 90 Nagari dengan Sekolah Dasar (SD/MI), 69 Nagari dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), 41 Nagari dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA), dan 16 Nagari yang sudah memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sementara itu, akses ke institusi Akademi atau Perguruan Tinggi baru tersedia di 4 Nagari.
Kecamatan Kinali memimpin kuantitas lembaga pendidikan dasar dengan 17 Nagari yang memiliki fasilitas TK dan SD, serta 9 Nagari yang memiliki SMP. Sementara itu, untuk tingkat pendidikan menengah atas, Kecamatan Pasaman (wilayah ibu kota kabupaten) mendominasi dengan 7 Nagari yang memiliki sarana SMA/MA dan 4 Nagari memiliki SMK.
Menariknya, meskipun tidak memiliki jumlah sekolah dasar terbanyak, Kecamatan Luhak Nan Duo menjadi wilayah yang paling akomodatif untuk pendidikan tinggi, dengan 2 Nagari yang sudah memiliki sarana Akademi/Perguruan Tinggi.
Wilayah lain yang memiliki fasilitas perguruan tinggi adalah Kecamatan Lembah Melintang (1 Nagari) dan Kecamatan Pasaman (1 Nagari). Sebaliknya, wilayah pesisir seperti Kecamatan Sungai Beremas dan Sasak Ranah Pasisie tercatat memiliki keterbatasan sarana pendidikan tingkat lanjut.
Sektor Kesehatan: Pasaman Pusat Rujukan Utama, Layanan Primer Menyebar
Beralih ke sektor kesehatan, total kapasitas infrastruktur medis di Pasaman Barat diperkuat oleh keberadaan 4 Rumah Sakit, 2 Klinik Utama, 20 Puskesmas (baik rawat inap maupun non-rawat inap), dan 32 Puskesmas Pembantu (Pustu). Untuk layanan medis mandiri dan berbasis masyarakat, terdapat 53 unit Praktik Mandiri Dokter, 87 unit Praktik Mandiri Bidan, 20 Poskesdes, serta 78 unit Polindes yang aktif beroperasi.
Kecamatan Pasaman kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat rujukan utama kesehatan di kabupaten ini dengan kepemilikan 2 Rumah Sakit, 1 Klinik Utama, 4 Puskesmas, dan 13 unit Praktik Mandiri Dokter. Dua rumah sakit lainnya terletak di Kecamatan Lembah Melintang (1 unit) dan Kecamatan Luhak Nan Duo (1 unit).
Untuk menyiasati jarak geografis, pemerintah daerah mengandalkan jaringan Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Pondok Bersalin Desa (Polindes). Kecamatan Koto Balingka dan Sungai Aur tercatat menjadi wilayah yang paling banyak mengandalkan Pustu dengan masing-masing memiliki 5 unit penunjang.
Sementara untuk tingkat fasilitas kebidanan desa, Kecamatan Pasaman (15 unit) dan Kinali (14 unit) menjadi wilayah dengan mitigasi persalinan lokal paling padat di tingkat Nagari.
Dalam hal partisipasi masyarakat aktif, laporan BPS mencatat seluruh 90 Nagari di Pasaman Barat telah menjalankan kegiatan Posyandu secara rutin setiap sebulan sekali.
Namun, untuk program Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang mendeteksi dini penyakit tidak menular (PTM), baru aktif berjalan di 24 Nagari, di mana Kecamatan Talamau menjadi yang paling disiplin dengan pelaksanaan merata di 7 Nagari mereka.
Data berkala dari Podes 2025 ini diharapkan menjadi kompas bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat untuk menyusun kebijakan pembangunan yang tepat sasaran, khususnya dalam mengintervensi wilayah-wilayah yang masih kekurangan akses pendidikan tinggi dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
