Kisah Pemuda Kiawai yang Cetak Sejarah di Bogor: Siapa Sebenarnya Soetan Kanaikan?
- account_circle Yelki
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- print Cetak

Ilustrasi teatrikal berlatar tahun 1931 yang menggambarkan sosok Abdoel Azis Nasution gelar Soetan Kanaikan berdiri tegak di depan Sekolah Pertanian Swasta (Landbouw School Swasta) yang ia dirikan di Lubuk Sikaping.
PASAMAN — Sejarah mencatat banyak putra daerah yang memiliki andil besar dalam meletakkan batu pertama pembangunan bangsa, namun namanya kerap luput dari buku sejarah utama. Salah satunya adalah Abdoel Azis Nasution gelar Soetan Kanaikan, seorang pemuda asal Kota Kiawai—sebuah wilayah yang terletak di antara Taloe dan Air Bangis, tak jauh dari kawasan perkebunan legendaris NV Cultuur Syndicaat Ophir.
Lahir dan besar di tanah Pasaman, Soetan Kanaikan mengawali perjalanan akademisnya di Sekolah Rakyat Kotanopan, sebelum akhirnya merantau ke Fort de Kock (kini Bukittinggi) untuk menempuh sekolah guru pada tahun 1909.
Namun, takdir membawa Soetan Kanaikan ke jalur yang berbeda. Meski telah mengantongi beslit (surat keputusan) resmi sebagai guru, ia memilih tidak mengajar. Ketertarikannya yang mendalam pada potensi agraris di kampung halamannya, Distrik Ophir, mendorongnya memutar kemudi. Ia memutuskan berangkat ke Jawa untuk mendalami ilmu tanah di Midlebare Landbouwschool (Sekolah Menengah Pertanian) di Buitenzorg (kini Bogor).
Langkah berani ini membuahkan hasil emas. Pada tahun 1914, Soetan Kanaikan resmi lulus dan menasbihkan dirinya sebagai lulusan pertama dari sekolah tinggi pertanian bergengsi milik pemerintah kolonial tersebut.
Lingkaran Kaum Intelektual Pribumi
Selama menuntut ilmu di Buitenzorg, Soetan Kanaikan berteman karib dengan para pemuda cerdas dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Sorip Tagor Harahap, alumni Europese Lagere School (ELS) Padang Sidempoean yang belajar di sekolah kedokteran hewan (veeartsenschool) sejak 1907.
Pada tahun yang sama saat Soetan Kanaikan lulus (1914), Sorip Tagor melanjutkan studi kedokteran hewan ke Utrecht, Belanda, dan lulus pada 1920 sebagai pribumi pertama yang menyandang gelar dokter hewan setara Eropa. Menariknya, Sorip Tagor ini merupakan tokoh sejarah yang kelak menjadi ompung (kakek buyut) dari figur publik tanah air saat ini, Inez dan Risty Tagor.
Dedikasi Tanpa Batas: Dari Advisor Pemerintah hingga Dirikan Sekolah Swasta
Pasca-lulus, kecakapan Soetan Kanaikan diakui pemerintah Hindia Belanda. Ia diangkat sebagai advisor (penasihat) pertanian dan ditugaskan berpindah-pindah mulai dari Tapanoeli, Pariaman, Painan, Payakumbuh, hingga Aceh.
Pengabdiannya berlanjut hingga ia dipercaya memimpin landbownormaalscholen (Sekolah Guru Pertanian) yang baru dibuka di Padang Panjang. Sayang, akibat krisis keuangan yang melanda pemerintah saat itu, operasional sekolah tersebut terpaksa macet di tengah jalan.
“Kegagalan proyek pemerintah tidak membuat Soetan Kanaikan patah arang. Jiwa pendidik dan kecintaannya pada pertanian justru membawanya pulang ke kampung halaman.”
Pada tahun 1931, ia secara mandiri mendirikan sekolah pertanian swasta di Lubuk Sikaping, ibu kota onderafdeeling Lubuk Sikaping. Langkah ini menjadi oase bagi pemuda-pemuda Pasaman yang ingin mendalami ilmu pertanian modern tanpa harus merantau jauh ke Pulau Jawa.
Suara Tunggal dari Distrik Ophir
Kiprah Soetan Kanaikan tidak hanya mandek di sektor pendidikan dan pertanian, melainkan juga merambah ke dunia politik dan kebijakan. Ketika dewan regional Minangkabauraad dibentuk di Padang pada tahun 1936, Abdoel Azis Nasution gelar Soetan Kanaikan terpilih sebagai satu-satunya perwakilan resmi yang membawa suara dan aspirasi masyarakat dari Ophir Districten.
Kisah Soetan Kanaikan adalah potret nyata dari seorang intelektual awal abad ke-20: belajar setinggi mungkin, berkelana mengumpulkan ilmu, namun pada akhirnya kembali ke akar rumput untuk membangun tanah kelahirannya.
- Penulis: Yelki
- Editor: Hanny
- Sumber: https://poestahadepok.blogspot.com/2020/04/sejarah-air-bangis-9-onderneming-nv.html#more
