Harga Minyak Dunia Mencapai Level Tertinggi Dalam Dua Pekan, Negoisasi Iran-AS Masih Buntu
- account_circle Hanny
- calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
- print Cetak

Kondisi di Selat Hormuz (istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMBARBIZ – Harga minyak dunia sudah mencapai level tertinggi dalam dua pekan dan naik hampir 3 persen pada akhir perdagangan Senin (27/4/2026) waktu setempat atau Selasa (28/4/2026) pagi WIB.
Penguatan terjadi di tengah mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta masih terbatasnya pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,9 dollar AS atau 2,8 persen menjadi 108,23 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,97 dollar AS atau 2,1 persen menjadi 96,37 dollar AS per barrel.
Kenaikan tersebut membuat Brent mencatat penguatan selama enam hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Maret 2025 dan menjadi penutupan tertinggi sejak 7 April 2026. Sedangkan WTI ditutup pada level tertinggi sejak 13 April 2026.
Pasar menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasokan energi global, terutama setelah negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan titik terang.
Presiden AS Donald Trump disebut telah membahas proposal baru dari Iran terkait penyelesaian konflik dengan Teheran bersama para penasihat keamanan nasionalnya. Namun, perang masih berada dalam kondisi buntu dan pasokan energi dari kawasan tersebut tetap terganggu.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan kebuntuan diplomatik menyebabkan jutaan barrel minyak gagal masuk ke pasar internasional setiap harinya.
“Kebuntuan diplomatik berarti setiap hari sekitar 10 juta hingga 13 juta barrel minyak gagal mencapai pasar internasional, sehingga memperburuk kondisi pasokan minyak yang sudah ketat. Karena itu, harga minyak hanya punya satu arah, yaitu naik,” ujarnya.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga masih sangat terbatas. Dalam 24 jam terakhir, hanya 7 kapal yang melintasi jalur tersebut, jauh di bawah rata-rata sekitar 140 kapal per hari sebelum perang Iran pecah pada 28 Februari lalu. Sebelum konflik dimulai, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Selain itu, 6 kapal tanker yang membawa minyak Iran dilaporkan dipaksa kembali ke Iran akibat blokade AS dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin memuji rakyat Iran yang disebut tetap mempertahankan kemandiriannya di tengah tekanan AS dan Israel. Putin juga menegaskan Moskwa akan melakukan segala upaya untuk membantu Teheran.
Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan menggelar pertemuan pada Kamis pekan ini.
Meski gencatan senjata Iran sempat mengurangi tekanan untuk segera menaikkan suku bunga, pelaku pasar masih memperkirakan harga minyak tinggi akan mendorong inflasi dan memaksa ECB menaikkan suku bunga pada akhir tahun.
Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga minyak kuartal IV-2026 menjadi sebesar 90 dollar AS per barrel untuk Brent dan 83 dollar AS per barrel untuk WTI, seiring menurunnya produksi minyak dari Timur Tengah.
“Risiko ekonomi saat ini lebih besar dari perkiraan dasar kami untuk minyak mentah, karena ada potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut, tingginya harga produk olahan, risiko kelangkaan pasokan, dan besarnya guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis analis Goldman Sachsyang dipimpin Daan Struyven dalam catatan riset.***
- Penulis: Hanny
- Sumber: Kompas
