Stok Pangan Melimpah, Inflasi Pasaman Barat Terendah Se-Sumbar
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- print Cetak

Tren penurunan laju inflasi yang konsisten sejak awal tahun 2026 ini memberikan sinyal positif bagi kekuatan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
SIMPANG AMPEK — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman Barat membawa kabar baik bagi perekonomian daerah. Berdasarkan Berita Resmi Statistik No. 05/05/1312/Th. III yang dirilis pada 4 Mei 2026, tingkat kenaikan harga barang di Pasaman Barat tercatat paling landai dan terkendali di seluruh Provinsi Sumatera Barat untuk periode April 2026.
Secara tahunan (Year-on-Year), Pasaman Barat hanya mengalami inflasi sebesar 1,03 persen dengan nilai Indeks Harga Konsumen (IHK) bertengger di angka 112,82. Prestasi ini menobatkan Pasaman Barat sebagai wilayah dengan tingkat inflasi terendah se-Sumatera Barat. Angka ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Dharmasraya yang justru mengalami lonjakan harga tertinggi di provinsi tersebut, yakni mencapai 3,44 persen.
Keberhasilan Pasaman Barat dalam menjaga stabilitas harga ini dipicu oleh penurunan tekanan harga yang biasanya melonjak selama hari besar keagamaan. Berdasarkan data kelompok pengeluaran, penyelamat utama yang menahan laju inflasi adalah melimpahnya pasokan di sektor makanan, minuman, dan tembakau. Sektor pangan ini justru mengalami penurunan harga (deflasi) dengan kontribusi sebesar -0,13 persen, menandakan bahwa stok pangan pokok di pasar domestik lokal sangat aman dan mencukupi.
Meski demikian, masyarakat masih merasakan adanya kenaikan biaya pada beberapa sektor lain. Pendorong utama inflasi di Pasaman Barat dipimpin oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (seperti salon atau produk kecantikan) yang menyumbang kenaikan sebesar 0,50 persen. Disusul oleh sektor penyediaan makanan/restoran sebesar 0,29 persen, serta perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,11 persen.
Berikut adalah rincian lengkap kontribusi setiap kelompok pengeluaran terhadap naik-turunnya harga di Pasaman Barat secara tahunan pada April 2026:
-
Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: +0,50%
-
Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: +0,29%
-
Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: +0,11%
-
Pendidikan: +0,08%
-
Transportasi: +0,07%
-
Pakaian dan Alas Kaki: +0,03%
-
Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga: +0,03%
-
Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan: +0,02%
-
Rekreasi, Olahraga dan Budaya: +0,02%
-
Kesehatan: +0,01%
-
Makanan, Minuman dan Tembakau: -0,13%
Jika melihat ke belakang, tren pergerakan harga di Pasaman Barat selama setahun terakhir memang sangat dinamis. Pada April 2025, inflasi sempat berada di angka 2,71 persen, lalu merosot ke zona penurunan harga pada Mei 2025 (-0,02 persen) dan Juni 2025 (-0,34 persen).
Grafik kembali merangkak naik sejak Juli 2025 (2,57 persen) hingga mencapai puncaknya pada akhir tahun, yaitu Desember 2025, yang sempat menyentuh angka 7,09 persen. Namun, memasuki awal tahun 2026, laju kenaikan harga terus menunjukkan penurunan yang konsisten secara berturut-turut dari Januari (4,29 persen), Februari (3,81 persen), Maret (2,74 persen), hingga akhirnya mendarat di angka yang sangat aman, yaitu 1,03 persen di April 2026.
Melambatnya laju kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi warga. Hal ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat Pasaman Barat tetap kuat serta memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih sehat ke depannya.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
