Patung Bundo Kanduang Kesamber Petir, Simbol Sawit Dituntut Balik Kampung
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Bagian kepala patung Bundo Kanduang di Bundaran Simpang Ampek, Pasaman Barat, hancur tersambar petir.
PASAMAN BARAT — Sebuah fenomena alam yang terjadi di pusat Kabupaten Pasaman Barat memicu diskusi publik yang meluas di ruang siber. Kepala patung Bundo Kanduang, yang berdiri berdampingan dengan patung Ninik Mamak di Bundaran Simpang Ampek, dilaporkan hancur akibat tersambar petir saat cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut baru-baru ini.
Insiden hancurnya bagian atas patung ikonik ini dengan cepat mengundang atensi masyarakat luas, khususnya di berbagai platform media sosial. Pemantauan terhadap respons warganet (netizen) menunjukkan adanya pembelahan opini yang cukup signifikan.
Ragam komentar bernada satir, kritik sosial, sudut pandang teologis, hingga desakan kultural bermunculan dalam menyikapi runtuhnya salah satu representasi simbol adat Minangkabau tersebut.
Pembelahan Opini Publik dan Kritik Kultural
Di jagat maya, tidak sedikit warganet yang mengaitkan fenomena ini sebagai sebuah bentuk “isyarat alam” terhadap pergeseran moralitas sosial kontemporer. Sebagian kalangan menilai bahwa nilai luhur yang melekat pada sosok Bundo Kanduang—sebagai limpapeh rumah nan gadang atau lambang kehormatan dan kesucian perempuan dalam adat Minangkabau—kini mulai tergerus oleh era digitalisasi.
“Bundo Kanduang saat ini seolah hanya menjadi simbol semata. Banyak fenomena sosial di platform digital, seperti TikTok, menampilkan perilaku verbal yang kurang santun serta pengabaian adat yang nyata. Peristiwa sambaran petir ini sewajarnya dimaknai sebagai pengingat keras,” tulis seorang netizen dalam sebuah diskusi daring yang viral.
Kritik tersebut juga meluas pada aspek tata krama domestik, kepatuhan dalam institusi pernikahan, hingga pelanggaran terhadap kaidah-kaidah syariat Islam, seperti penyelenggaraan pesta pernikahan (pelaminan) di luar ruangan tanpa restu adat konvensional.
Di sisi teologis, sejumlah masyarakat secara tegas menyatakan penolakannya terhadap keberadaan monumen berbentuk makhluk hidup, dengan dalih bahwa hal tersebut tidak sejalan dengan prinsip fundamental Minangkabau, yakni “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah).
Desakan Pengembalian Ikon Tandan Kelapa Sawit
Selain fokus pada pergeseran moral, insiden ini membangkitkan kembali memori kolektif warga mengenai identitas visual asli daerah. Arus utama aspirasi netizen secara masif mendesak Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat untuk tidak melakukan restorasi terhadap patung tersebut. Sebaliknya, mereka menuntut pengembalian Tugu Tandan Kelapa Sawit yang dahulu berdiri di lokasi yang sama.
Masyarakat berargumen bahwa tanaman kelapa sawit adalah representasi murni dari sosiogeografis dan roda penggerak utama perekonomian di Kabupaten Pasaman Barat.
Tanah Pasaman Barat yang subur dan makmur secara historis diwakili oleh keberadaan tugu sawit tersebut, yang dinilai jauh lebih netral dan mencerminkan kesejahteraan segenap elemen masyarakat setempat tanpa memicu perdebatan doktrinal.
Respons Pemerintah Daerah dan Imbauan Rasional
Menanggapi dinamika sosiokultural yang berkembang cepat di tengah masyarakat, Bupati Pasaman Barat, Yulianto, segera mengambil langkah taktis. Pihaknya langsung melakukan koordinasi intensif dengan Bank Nagari, mengingat pembangunan monumen tersebut semula didanai melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) lembaga perbankan daerah tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Bupati Yulianto secara tegas mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar menyikapi insiden rusaknya kepala patung Bundo Kanduang tersebut secara bijak dan rasional.
Bupati Yulianto menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan murni fenomena alam meteorologi akibat sambaran petir pada struktur bangunan tinggi, sehingga masyarakat diharapkan tidak terhanyut dalam spekulasi mistis yang berlebihan.
Lebih lanjut, Bupati menyatakan bahwa pemerintah daerah bersikap demokratis dan akomodatif terhadap aspirasi warga. Pihaknya saat ini tengah menunggu masukan resmi serta hasil musyawarah dari para tokoh adat, pemuka masyarakat, dan Ninik Mamak setempat.
Keputusan mengenai apakah bundaran strategis Simpang Ampek tersebut akan dikembalikan ke bentuk Tugu Kelapa Sawit asli atau dilakukan perbaikan struktural sepenuhnya diserahkan kepada mufakat bersama masyarakat Pasaman Barat.***
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
