Pakar Unand Prof Mas Mera Ingatkan Bahaya Salah Bangun Groin
- account_circle Irfansyah P
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026
- print Cetak

Prof. Ir. Mas Mera, MT., PhD
PADANG — Urusan menjinakkan hantaman ombak di pesisir pantai ternyata tidak bisa modal nekat dan semen instan belaka. Jika salah perhitungan, alih-alih menyelamatkan pantai dari abrasi, infrastruktur yang dibangun justru bisa mengundang bahaya maut bagi wisatawan yang sedang asyik berenang.
Peringatan keras sekaligus ilmiah ini dilontarkan langsung oleh pakar teknik dari Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar), Prof Mas Mera.
Dalam pemaparannya, sang guru besar menekankan bahwa ketahanan bangunan di wilayah pesisir wajib hukumnya memperhitungkan karakteristik alam secara presisi guna menyukseskan agenda mitigasi bencana akibat fenomena hidrometeorologi.
Jadi, bagi para kontraktor atau pemangku kebijakan, mari merapat dan catat wejangan penting ini agar anggaran proyek tidak hanyut dibawa ombak secara sia-sia.
Tiga Aspek Sakral Mitigasi Bencana ala Prof Mas Mera
Menurut Prof Mas Mera, ada tiga pilar utama yang haram hukumnya untuk dilewatkan jika ingin membangun infrastruktur pelindung pantai yang kokoh nan fungsional.
1. Identifikasi Gaya Dominan
Aspek pertama yang paling mendasar adalah mengendus arah musuh, alias mengidentifikasi gaya dominan di area pantai tersebut. Kita harus paham betul, apakah masalah utama di pantai tersebut bersumber dari energi gelombang yang datang tegak lurus, atau justru akibat transpor sedimen yang bergerak sejajar pantai. Jangan sampai ombaknya datang dari depan, tapi benteng pertahanannya malah menghadap ke samping. Kan kocak!
2. Kesesuaian Tipologi Struktur
Pilar kedua adalah kesesuaian tipologi. Jangan pernah memaksakan satu jenis struktur tertentu jika karakteristik alam di lapangan justru menuntut solusi yang berbeda. Prof Mas Mera mengingatkan agar jangan dikit-dikit membangun groin jika yang sebenarnya dibutuhkan oleh alam adalah pemecah gelombang atau breakwater. Memaksa kehendak pada alam itu selain tidak efektif, juga bikin dompet daerah jebol tanpa hasil.
3. Sinkronisasi Kinerja Bangunan
Aspek ketiga yang tidak kalah krusial adalah memastikan posisi struktur bangunan mampu memicu akresi, alias proses penambahan lahan pantai secara alami. Bangunan pelindung yang cerdas adalah bangunan yang mampu bekerja sama dengan alam untuk mengumpulkan sedimen, bukan malah memperparah kikisan tanah.
Bahaya Laten ‘Rip Current’ Buatan Akibat Salah Desain
Sebagai pakar teknik ilmu mekanika fluida dan hidrolika di Unand, Prof Mas Mera mengungkapkan fakta lapangan yang cukup bikin merinding.
Berdasarkan penelitian dan studi komparatifnya, jika sebuah pantai mengalami abrasi akibat hantaman gelombang tegak lurus namun dipaksakan membangun groin dengan tipologi yang ngawur, dampaknya bisa sangat fatal.
Infrastruktur gagal tersebut tidak hanya mandul dalam menahan laju abrasi, tetapi juga menciptakan jebakan maut berupa munculnya rip current (arus balik mematikan) buatan di sepanjang sisi struktur bangunan.
“Pantai tersebut akan sangat berbahaya bagi masyarakat dan wisatawan yang berenang,” tegas sang guru besar bidang ilmu mekanika fluida dan hidrolika Unand tersebut di Padang.
Niat hati ingin swafoto estetis di pantai pesisir Sumbar, malah bisa terseret arus bawah laut gara-gara salah konstruksi. Sungguh plot twist yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Belajar dari Suksesnya Modifikasi ‘T-Head Groin’ di Agam
Namun tenang, dunia rekayasa sipil tentu punya solusi solutif. Beliau menegaskan bahwa kegagalan fungsi infrastruktur pelindung pantai selama ini mayoritas bukan karena kualitas semen atau materialnya yang murahan.
Masalah utamanya adalah minimnya pemahaman perencana terhadap mekanisme kerja fisik struktur saat merespons energi hidraulika lokal.
Sebagai contoh nyata yang berhasil, Prof Mas Mera menunjuk proyek di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Di sana, bangunan groin konvensional yang awalnya loyo dan tidak efektif menahan gempuran gelombang tegak lurus langsung dimodifikasi menjadi struktur canggih bernama T-Head Groin.
Hasilnya? Penambahan kepala pada struktur groin tersebut sukses membalikkan keadaan. Fungsi struktur langsung terkonversi menjadi pemecah gelombang yang andal, menciptakan zona air tenang, dan memicu sedimentasi masif.
Secara teoretis, bangunan groin biasa memang hanya jodoh untuk arus yang sejajar pantai. Sedangkan untuk ombak yang nekat datang tegak lurus, maka breakwater adalah pilihan pelindung paling mutakhir.
Jika breakwater sukses bekerja, di belakangnya akan terbentuk tombolo (endapan pasir) yang subur sehingga bisa ditanami pohon penyejuk pantai.
“Selain itu, pantai di belakangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermain wisatawan termasuk anak-anak,” tutup Prof Mas Mera mengakhiri kuliah singkatnya.
Jadi, mari kita bangun pesisir dengan ilmu, bukan sekadar dengan nafsu proyek!
- Penulis: Irfansyah P
