Alarm Kesehatan Pasaman Barat, 89 Bayi dan 12 Ibu Meninggal pada 2024
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- print Cetak

Seorang ibu hamil yang hendak bersalin harus ditandu oleh warga melewati medan jalan yang sulit dan rusak parah, pada Kamis (14/5/2026) lalu di Rurapatontang.
PASAMAN BARAT — Angka kematian bayi dan kematian ibu melahirkan di Kabupaten Pasaman Barat sepanjang tahun 2024 masih menjadi perhatian serius dalam sektor kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman Barat dalam publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pasaman Barat 2025, tercatat sebanyak 89 kasus kematian bayi dan 12 kasus kematian ibu melahirkan yang tersebar di 11 kecamatan.
Data tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Kinali menjadi wilayah dengan jumlah kematian bayi tertinggi, yakni mencapai 17 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Pasaman dengan 13 kasus, kemudian Kecamatan Talamau dan Sungai Aur masing-masing 12 dan 9 kasus. Sementara itu, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie menjadi wilayah dengan angka kematian bayi paling rendah, yaitu 2 kasus.
Untuk kasus kematian ibu melahirkan, Kecamatan Sungai Beremas tercatat sebagai daerah dengan jumlah tertinggi, yakni sebanyak 3 kasus. Kecamatan Koto Balingka mencatat 2 kasus, sedangkan beberapa kecamatan lain seperti Ranah Batahan, Sungai Aur, Gunung Tuleh, Pasaman, Luhak Nan Duo, Sasak Ranah Pasisie, dan Kinali masing-masing mencatat 1 kasus kematian ibu. Adapun Kecamatan Lembah Melintang dan Talamau tidak mencatat adanya kasus kematian ibu sepanjang tahun 2024.
Dalam publikasi tersebut dijelaskan bahwa kematian neonatal merupakan kematian bayi yang terjadi sejak bayi lahir hidup hingga berusia 28 hari. Kondisi ini umumnya dipengaruhi berbagai faktor, seperti berat badan lahir rendah (BBLR), komplikasi persalinan, hingga keterlambatan penanganan medis. Semakin rendah berat badan bayi saat lahir, maka semakin besar risiko kematian neonatal.
BPS juga menegaskan bahwa masih ditemukannya kasus kematian ibu dan bayi menunjukkan perlunya peningkatan wawasan masyarakat terkait kehamilan sehat dan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin selama masa kehamilan.
Selain faktor kesehatan ibu hamil, kualitas pelayanan kesehatan juga menjadi salah satu penentu penting dalam menekan angka kematian ibu dan bayi. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Kabupaten Pasaman Barat memiliki 3 rumah sakit umum, 1 rumah sakit bersalin, 20 puskesmas, 25 klinik atau praktik dokter, 479 posyandu, dan 156 polindes yang tersebar di berbagai wilayah.
Pemerintah daerah dinilai perlu terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah dengan angka kasus tinggi. Upaya seperti pemerataan tenaga medis, peningkatan layanan persalinan, edukasi kesehatan reproduksi, pemeriksaan kehamilan berkala, hingga penguatan fasilitas kesehatan di daerah terpencil menjadi langkah penting dalam menekan angka kematian ibu dan bayi.
Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan profesional juga dinilai menjadi faktor utama dalam menciptakan keselamatan ibu dan bayi saat proses persalinan berlangsung.
Data ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan sektor kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan, akses masyarakat, serta edukasi kesehatan yang berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pasaman Barat secara menyeluruh.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
