Dramatis! Tekuk Arsenal Lewat Adu Penalti, PSG Pertahankan Gelar Juara Liga Champions
- account_circle Bangun S
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- print Cetak

Marquinhos dari Paris Saint-Germain mengangkat trofi Liga Champions UEFA setelah kemenangan di final [Carl Recine/Getty Images]
BOLA – Paris Saint-Germain (PSG) sukses mengukuhkan status mereka sebagai penguasa baru sepak bola Eropa setelah berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions. Tim raksasa Prancis ini menumbangkan Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan di Puskas Arena, Budapest, Hungaria.
Kemenangan ini sekaligus mematahkan label masa lalu PSG yang kerap dianggap sebagai tim glamor namun minim prestasi di panggung tertinggi Eropa. Di bawah asuhan Luis Enrique, PSG kini resmi membangun sebuah dinasti baru.
Jalannya Pertandingan: Keunggulan Cepat The Gunners
Hanya sebelas hari setelah merayakan gelar Liga Premier pertama mereka dalam 22 tahun, Arsenal langsung menggebrak sejak awal laga. Pada menit keenam, sebuah kesalahan sapuan dari Marquinhos memantul ke arah Leandro Trossard, yang langsung mengirimkan bola ke Kai Havertz. Havertz dengan tenang melepaskan tembakan ke sudut atas gawang David Raya untuk membawa Arsenal unggul 1-0.
Gol tersebut membawa Havertz mencatatkan rekor sebagai pemain keempat dalam sejarah yang mampu mencetak gol di dua final Liga Champions berbeda dengan dua klub yang berbeda pula.
Tertinggal satu gol, PSG langsung mendominasi penguasaan bola. Sepanjang babak pertama, tim asal Paris tersebut mencatatkan 32 kali upaya serangan berbanding 3 kali milik Arsenal. Namun, lini pertahanan kokoh The Gunners yang mengawal ketat pergerakan Khvicha Kvaratskhelia membuat babak pertama berakhir dengan keunggulan klub London utara.
Kebangkitan PSG dan Drama Menit-Menit Akhir
Petaka bagi Arsenal datang pada menit ke-65 ketika Cristhian Mosquera menjatuhkan Kvaratskhelia di dalam kotak terlarang. Ousmane Dembele yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna, mengubah skor menjadi 1-1 sekaligus mencetak gol kedelapannya di kompetisi ini.
Intensitas permainan meningkat drastis setelah gol penyeimbang tersebut. Kvaratskhelia nyaris membalikkan kedudukan melalui serangan balik cepat, namun tendangan kaki kirinya membentur tiang gawang. Di menit ke-89, giliran Vitinha yang mengancam lewat tendangan yang mengenai bagian atas jaring gawang Arsenal. Skor imbang bertahan hingga 90 menit waktu normal usai.
Memasuki babak perpanjangan waktu, kedua tim yang sudah kehabisan tenaga bermain dengan sangat hati-hati, hingga memaksa wasit Daniel Siebert meniup peluit panjang untuk melanjutkan laga ke babak tos-tosan.
Mental Baja Luis Enrique di Babak Penalti
Dalam babak adu penalti, penggawa Arsenal Eberechi Eze gagal mengeksekusi penalti setelah tembakannya diselamatkan oleh kiper PSG, Matvey Safonov. Namun, Arsenal sempat mendapat napas baru ketika David Raya menggagalkan upaya Nuno Mendes.
Momen penentu tiba pada penendang terakhir. Bek Arsenal, Gabriel, memikul beban berat untuk menjaga asa timnya. Naas, tendangan kaki kirinya melambung jauh di atas mistar gawang. Gol dari Lucas Beraldo sebelumnya memastikan kemenangan penalti 4-3 untuk PSG.
Dengan hasil ini, PSG menjadi klub pertama yang berhasil mempertahankan trofi Liga Champions sejak Real Madrid melakukannya pada periode 2016 hingga 2018.
“Tim ini lebih kuat dari tahun lalu karena kami tahu sebelum pertandingan betapa sulitnya bermain melawan Arsenal. Sebagai sebuah klub dan kota, kemenangan ini sungguh luar biasa,” ujar pelatih PSG, Luis Enrique, yang kini mencatatkan rekor memenangkan 12 dari 13 final klub yang ia mainkan dalam format pertandingan tunggal.
Di sisi lain, gelandang Arsenal Declan Rice mengaku hancur namun tetap bangga atas pencapaian timnya musim ini. “Ini sangat menyakitkan. Sangat mengecewakan kalah di final melalui adu penalti. Tapi kami mencoba melihat perspektif yang lebih luas tentang sejauh mana kami telah melangkah sebagai sebuah tim,” tuturnya.
- Penulis: Bangun S
- Editor: Hanny
