Viral Istilah “Barbar” Disematkan ke Sumbar, Mahyeldi: Tidak Beretika dan Memecah Belah!
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- print Cetak

Gubernur Mahyeldi Ansharullah memberikan keterangan kepada awak media usai pelaksanaan sholat Iduladha di halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat, Rabu (27/5/2026). Mahyeldi menanggapi polemik pernyataan Permadi Arya yang dinilai memecah belah dan melukai masyarakat Sumbar.
PADANG – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mengecam keras pernyataan pegiat media sosial Permadi Arya, atau yang akrab disapa Abu Janda. Kecaman ini mencuat setelah video pidato Abu Janda yang mengaitkan Sumbar dengan istilah “barbar” viral di media sosial dan memicu polemik di tengah masyarakat.
Dalam video yang beredar luas tersebut, Abu Janda tengah menyinggung isu intoleransi di Indonesia dengan membawa nama dua provinsi.
“Nah itu yang satu di Jabar, satu lagi di Sumbar. Saya enggak tahu nih yang ada barbar-nya ini. Saya juga aneh, yang ada barbar-nya kok banyak yang barbar,” ujar Abu Janda dalam potongan video tersebut.
Menanggapi hal itu, Gubernur Mahyeldi menilai ucapan tersebut sangat tidak pada tempatnya dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Ia pun menegaskan dukungan penuhnya terhadap langkah hukum yang ditempuh oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) yang telah melaporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri.
“Kita sangat setuju Abu Janda dilaporkan, karena pernyataan yang disampaikan itu tidak pada tempatnya, memecah belah, membuat permusuhan,” ujar Mahyeldi dengan tegas usai melaksanakan shalat Idul Adha di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (27/5).
Desak Penegak Hukum Bertindak Tegas
Mahyeldi meminta aparat penegak hukum menyikapi persoalan ini dengan serius. Menurutnya, tindakan tegas diperlukan agar memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang kerap melontarkan ujaran bernada provokatif di ruang publik.
“Persoalan seperti ini harus disikapi secara lebih baik oleh penegak hukum, karena hal seperti ini banyak pihak yang melakukan. Tentu harus menjadi pelajaran bagi mereka,” katanya.
Dinilai Tak Mencerminkan Etika dan Keberagaman
Lebih lanjut, Mahyeldi mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara besar yang dibangun di atas keberagaman budaya, bahasa, suku, dan agama. Oleh karena itu, setiap tokoh atau figur publik harus berhati-hati dalam menyampaikan pandangan ke masyarakat.
Gubernur menilai ucapan Abu Janda sama sekali tidak mencerminkan etika dalam menghargai kelompok masyarakat lain, khususnya warga Sumatera Barat.
“Tidak beretika, kurang beretika, tidak menghargai terhadap suku lain. Inilah orang-orang yang membuat permusuhan, memecah belah,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Mahyeldi kembali menegaskan bahwa supremasi hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu terhadap siapa saja yang mencoba mengusik kedamaian dan memecah belah bangsa.
“Saya kira siapa saja yang memecah belah harus ditegakkan proses hukum kepadanya,” pungkasnya.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
