Aksi Mahasiswa di Jantung Ibu Kota: Polisi Buka Jalan, Demonstran Enggan Bubar
- account_circle Hanny
- calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
- print Cetak

Keterangan Foto: Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi UNJ Melawan saat melakukan aksi longmarch dengan tertib di jalur protokol Rawamangun, Jakarta Timur. Mereka membawa spanduk tuntutan penolakan program Makan Bergizi Gratis dan reformasi anggaran pendidikan, Jumat (12/6/2026). (Foto: Dok. Arsip Pers Mahasiswa)
JAKARTA – Gelombang unjuk rasa berskala besar kembali melanda sejumlah titik strategis di ibu kota pada Jumat malam (12/6/2026). Di Jakarta Pusat, aparat kepolisian akhirnya membuka blokade jalan di kawasan Dukuh Atas, Jalan M.H. Thamrin, sekitar pukul 20.45 WIB.
Langkah penyekatan tersebut sebelumnya dilakukan guna mengadang laju massa mahasiswa yang hendak melakukan mobilisasi menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Pasca-pembukaan blokade, arus lalu lintas kendaraan bermotor berangsur-angsur kembali normal. Kendati sebagian massa memilih membubarkan diri, hingga pukul 22.00 WIB sejumlah demonstran terpantau masih bertahan di sekitar lokasi dengan pengawalan ketat dari aparat penegak hukum.
Sebagian pengunjuk rasa yang bertahan nekat menutup satu ruas jalan sembari membentangkan poster yang berisi kritik tajam terhadap kebijakan strategis pemerintah, di antaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.
Di sela-sela aksi, mereka juga mengajak para pengendara yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai simbol sokongan terhadap aspirasi mereka.
Aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” ini diinisiasi oleh aliansi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Massa aksi sebelumnya terpaksa berjalan kaki (longmarch) dari kawasan Semanggi setelah kendaraan yang mereka tumpangi dilarang melintas menuju Bundaran HI oleh petugas.
Dalam maklumatnya, massa menuntut penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), pembatalan program MBG serta Koperasi Desa, serta penghentian militerisme di ranah sipil.
Fenomena menarik terlihat di lapangan, di mana elemen massa yang bertahan tidak hanya didominasi oleh mahasiswa, tetapi juga diikuti oleh sektor pekerja formal dan pengemudi ojek daring (online).
“Kami ikut bertahan di sini karena langsung terdampak oleh rantai kenaikan harga bahan bakar. Biaya operasional harian kami kian mencekik,” tutur Tama, salah seorang pengemudi ojek daring yang berada di lokasi aksi.
Eksalasi Pergerakan di Jakarta Timur
Sementara itu pada waktu yang bersamaan, gelombang protes juga pecah di wilayah Jakarta Timur. Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang tergabung dalam komite “Aliansi UNJ Melawan” menggelar aksi jalan kaki massal di kawasan Rawamangun.
Massa bergerak secara terstruktur dari dalam area kampus dengan membawa ragam atribut publikasi sektoral. Mereka mengusung sepuluh tuntutan pokok yang mengakar pada tiga isu utama yakni pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Poin-poin maklumat tersebut antara lain mendesak penguatan nilai tukar Rupiah, penurunan harga BBM dan bahan pokok, pemurnian realisasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN secara utuh, serta penolakan terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
Koordinator aksi, Ronggo Dharma, menegaskan bahwa gerakan moral mahasiswa ini tidak akan berhenti sampai di sini. Mereka berjanji akan terus mengonsolidasikan massa dalam jumlah yang lebih besar jika pemerintah tidak segera memberikan respons konkret terhadap tuntutan yang dilayangkan.
Rangkaian aksi di kawasan Rawamangun sendiri dilaporkan berlangsung secara tertib, aman, dan kondusif hingga massa membubarkan diri.
- Penulis: Hanny
