Baharuddin R Kecam Narasi Provokatif yang Sebut Pemimpin Terdahulu ‘Memperkosa’ Pasaman Barat
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak

Drs. H. Syahiran Lubis MM Bupati Pasaman Barat yang menjabat pada periode pertama tahun 2005—2010 dan periode kedua tahun 2016—2019, Bupati Pasaman periode 2000–2005 sekaligus Bupati Pasaman Barat periode 2010–2015, H. Baharuddin R, Bupati Pasaman Barat Yulianto saat sekarang (kiri ke kanan)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PASAMAN BARAT – Tokoh senior sekaligus Bupati Pasaman Barat periode 2010–2015, Baharuddin R, mengeluarkan pernyataan tegas terkait dinamika diskursus publik di media sosial yang dinilai mulai tidak sehat.
Dia meminta seluruh lapisan masyarakat, terutama para aktivis muda, untuk berhenti membenturkan antar pemimpin dan menghormati jasa para pejabat terdahulu yang telah membangun daerah.
Baharuddin menekankan bahwa setiap pemimpin, baik yang sedang menjabat maupun yang sudah purna tugas, memiliki kontribusi nyata bagi pembangunan Pasaman Barat.
Menolak Narasi “Adu Domba”
Dalam pernyataannya, Baharuddin menyoroti adanya tren membandingkan pemimpin secara tidak objektif yang justru memicu perpecahan.
“Saya minta jangan menghilangkan jasa pemimpin sebelumnya. Jangan adu antar pemimpin, baik yang aktif maupun yang purna tugas,” tegasnya.
Baharuddin mengingatkan bahwa menafikan kerja keras bupati sebelumnya bukan hanya tindakan yang tidak etis, tetapi juga mengaburkan sejarah perjuangan pembangunan di Bumi Mekar Tuah Basamo.
Kritik Keras Terhadap Oknum Aktivis Media Sosial
Kekesalan Baharuddin memuncak saat menanggapi unggahan di media sosial yang menggunakan diksi kasar terhadap para pemimpin masa lalu. Ia menyebut melihat komentar seorang pemuda yang secara provokatif mengatakan pemimpin terdahulu “memperkosa” Pasaman Barat.
“Ini ada saya lihat di medsos, seorang anak muda menyebut pemimpin dahulu memperkosa Pasaman Barat. Ini pernyataan provokatif dan tidak beradab,” ungkap Baharuddin.
Ia pun memberikan pesan menohok bagi generasi muda agar menjaga adab dan etika dalam memberikan kritik:
- Jadilah Aktivis Cerdas: Kritik harus berbasis data dan solusi, bukan caci maki serta tendensius.
- Hormati Sejarah: Seburuk apa pun persepsi publik, setiap pemimpin pasti meninggalkan warisan pembangunan.
- Tahu Diri: Beliau mengingatkan agar pemuda tidak bersikap “anak ketek ka gadang-gadangan” (anak kecil yang berlagak sok besar), sementara kontribusi pribadinya untuk daerah belum teruji.
Ajakan Membangun Sinergi
Alih-alih mencari kesalahan masa lalu, Baharuddin R mengajak masyarakat untuk bersatu memberikan energi positif kepada pemerintahan yang tengah berjalan. Menurutnya, pembangunan Pasaman Barat memerlukan stabilitas dan kolaborasi, bukan hujatan yang memecah belah.
“Lebih baik berikan semangat dan pendapat kepada pemimpin yang saat ini. Mari bersama-sama kita bangun Pasaman Barat ini,” tutupnya.
Disclaimer: Pernyataan ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat luas agar lebih bijak dalam berpendapat di ruang digital dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap para tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk daerah.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
