BREAKING NEWS
light_mode
Trending Tags
Beranda » BOLA » Sepak Bola Menyatukan Dunia Namun Birokrasi Amerika Serikat Justru Memecahnya

Sepak Bola Menyatukan Dunia Namun Birokrasi Amerika Serikat Justru Memecahnya

  • account_circle Yelki
  • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
  • print Cetak

NEW YORK — Sepak bola sejak lama diagungkan sebagai The Beautiful Game karena kemampuannya yang magis untuk meruntuhkan sekat perbedaan dan menyatukan umat manusia. Namun, ketika turnamen olahraga terbesar di dunia ini mendarat di tanah Amerika Serikat, keajaiban tersebut seketika menguap, digantikan oleh dinding birokrasi, tarif mencekik, dan retorika perang yang dingin.

Ironi terbesar langsung menghantam tim nasional putra Iran. Setelah sukses mengamankan tiket lolos ke putaran final, nasib partisipasi mereka kini justru digantungkan pada kemurahan hati selembar visa dari negara tuan rumah yang, secara sepihak, sedang melancarkan agresi militer terhadap negara mereka.

Menghukum Lapangan Hijau dengan Aturan Gedung Putih

Di bawah perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, AS secara agresif menghentikan penerbitan visa bagi sejumlah negara yang mereka cap sebagai “sponsor terorisme”, termasuk Iran. Akibatnya, skuad asuhan Amir Ghalenoei harus mempersiapkan diri di bawah bayang-bayang trauma emosional yang mendalam.

Bagi para pemain, konflik ini bukan sekadar berita di televisi; serangan rudal gabungan AS-Israel telah merenggut nyawa ribuan rekan senegara mereka, termasuk insiden tragis pemboman Stadion Azadi—tempat latihan mereka sendiri—dan pembantaian siswa sekolah di Minab.

Akibat intrik politik ini, timnas Iran bahkan terpaksa mengungsi dan memindahkan markas persiapan mereka ke Meksiko.

“Olahraga tidak pernah bisa benar-benar dipisahkan dari dimensi geopolitik yang lebih luas,” ujar Khayran Noor, seorang pengacara olahraga internasional yang berbasis di Kenya. “Jika partisipasi dibentuk oleh realitas geopolitik di luar permainan, bukankah itu merusak cita-cita inklusif yang diklaim oleh turnamen ini? Sepak bola itu global, tetapi mobilitas global tidak.”

Tembok Visa: Diskriminasi Finansial Terhadap Belahan Bumi Selatan

Sikap pilih-pilih AS sebagai tuan rumah tidak hanya menyasar para pemain, tetapi juga menghancurkan impian para penggemar di belahan bumi selatan (Global South). Sebanyak 27 dari 48 negara peserta Piala Dunia diwajibkan mengajukan visa AS dengan biaya yang fantastis, berkisar antara $185 hingga $435. Bagi masyarakat di negara-negara berkembang, nominal ini setara dengan upah kerja keras mereka selama berbulan-bulan.

Sebagai contoh nyata, bulan lalu permohonan visa dari kelompok penggemar asal Ghana yang berjumlah hampir 150 orang ditolak mentah-mentah. Padahal, biaya pengajuan visa gabungan AS dan Kanada yang harus mereka bayar sudah setara dengan pendapatan per kapita bulanan di Ghana. AS memang meluncurkan Sistem Penjadwalan Janji Prioritas FIFA (PASS), namun sistem ini dikritik hanya sebagai kosmetik birokrasi karena sama sekali tidak menjamin kelulusan visa.

Bayang-Bayang Ketakutan di Bawah Aturan ICE

Selain faktor biaya dan penolakan sepihak, atmosfer ketakutan yang ditebarkan oleh otoritas imigrasi AS membuat banyak penggemar internasional berpikir dua kali untuk menginjakkan kaki di sana.

Organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch sempat melaporkan kasus mengerikan di mana seorang pencari suaka yang menghadiri final Piala Dunia Antarklub di New Jersey ditangkap oleh departemen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) lalu dideportasi di depan anak-anaknya.

“Dengan sikap Amerika khususnya terkait perlakuan terhadap imigran dan penggemar, saya tidak percaya sepenuhnya aman untuk hadir di sana,” kata Riaz Hamed, seorang pencinta sepak bola asal Afrika Selatan dengan nada skeptis.

Kontras dengan keangkuhan AS, negara tuan rumah bersama seperti Meksiko justru dipuji karena jauh lebih ramah dan mudah diakses. Negara seperti Afrika Selatan bahkan lebih memilih mengirim delegasi pendukung mereka ke Pachuca dan Mexico City untuk menghindari rumitnya urusan imigrasi AS.

Piala Dunia kali ini memicu pertanyaan mendasar bagi masa depan olahraga global: Apakah pantas hak penyelenggaraan diberikan kepada negara yang membarikade pintunya bagi dunia? Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah turnamen akbar dinilai dari siapa yang benar-benar bisa berpartisipasi di dalamnya, bukan siapa yang sekadar menonton dari balik layar kaca.

  • Penulis: Yelki
  • Editor: Hanny

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komjen Pol Gatot Tri Suryanta Cetak Sejarah Baru Bintang Tiga di Sumbar

    Komjen Pol Gatot Tri Suryanta Cetak Sejarah Baru Bintang Tiga di Sumbar

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Yelki
    • visibility 12
    • 0Komentar

    PADANG – Dunia kepolisian di Ranah Minang baru saja diguncang oleh kabar mentereng yang sukses memecahkan rekor baru. Mantan orang nomor satu di Korps Bhayangkara wilayah Sumatra Barat kini resmi naik kelas ke kasta yang jauh lebih tinggi. Kenaikan pangkat Komjen Pol Gatot Tri Suryanta dari yang semula jenderal bintang dua (Irjen Pol) menjadi jenderal […]

  • Timur Tengah Membara: Iran Balas Serang Pangkalan Udara AS, Pertahanan Udara Kuwait Siaga Satu

    Timur Tengah Membara: Iran Balas Serang Pangkalan Udara AS, Pertahanan Udara Kuwait Siaga Satu

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 35
    • 0Komentar

    JAKARTA — Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas ke tingkat yang mengkhawatirkan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/5/2026) subuh waktu setempat. Berdasarkan laporan dari stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, aksi ini merupakan respons langsung atas agresi militer AS […]

  • Bupati Yulianto Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Jalan Terisolasi di Rura Patontang

    Bupati Yulianto Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Jalan Terisolasi di Rura Patontang

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Irfansyah P
    • visibility 34
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT — Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat, resmi memulai proyek perbaikan ruas jalan menuju Rura Patontang, Kecamatan Koto Balingka, pada Sabtu (6/6). Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam membuka akses wilayah yang selama ini terisolasi sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat setempat. Sebuah alat berat telah dikerahkan ke lokasi sejak Sabtu […]

  • Usai Purnatugas Sebagai Bupati, Hamsuardi Kembali Pimpin PAN Pasaman Barat

    Usai Purnatugas Sebagai Bupati, Hamsuardi Kembali Pimpin PAN Pasaman Barat

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 46
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT – Mantan Bupati Pasaman Barat, Hamsuardi, menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara meski tidak lagi menduduki kursi nomor satu di pemerintahan kabupaten tersebut. Sinyal pengabdian ini berlanjut di jalur politik setelah dirinya kembali dipercaya untuk menakhodai Partai Amanat Nasional (PAN) di tingkat daerah. Hamsuardi secara resmi telah menyelesaikan masa […]

  • Koperasi Merah Putih Mulai Beroperasi di Ratusan Nagari Sumatera Barat

    Koperasi Merah Putih Mulai Beroperasi di Ratusan Nagari Sumatera Barat

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 17
    • 0Komentar

    PADANG — Bermimpi memiliki ekonomi kerakyatan yang kokoh di tingkat desa memang indah, seindah bayangan mendapat warisan mendadak. Di provinsi Sumatera Barat, mimpi itu sedang coba diwujudkan lewat pembentukan koperasi massal. Kabar terbarunya, sebanyak 135 Kopdes (Koperasi Desa) yang tergabung dalam jaringan Koperasi Merah Putih di wilayah Sumbar dilaporkan sudah resmi mulai beroperasi hingga awal […]

  • Gandeng LKAAM, Kapolda Cek Langsung Keaslian Barang Bukti Narkotika Sumbar

    Gandeng LKAAM, Kapolda Cek Langsung Keaslian Barang Bukti Narkotika Sumbar

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 18
    • 0Komentar

    PADANG — Komitmen aparat kepolisian dalam menyapu bersih peredaran barang haram di ranah Minang tampaknya bukan sekadar isapan jempol belaka. Polda Sumbar baru saja membuktikan tajinya dengan menggelar aksi “bersih-bersih” skala besar. Tidak tanggung-tanggung, puluhan kilogram narkotika yang gagal beredar di tengah masyarakat langsung disulap menjadi abu dan cairan tak berdaya dalam sebuah seremoni pemusnahan […]

expand_less