Sepak Bola Menyatukan Dunia Namun Birokrasi Amerika Serikat Justru Memecahnya
- account_circle Yelki
- calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
- print Cetak

Para pemain sepak bola Irak merayakan bersama para penggemar selama prosesi dan upacara di atas bus terbuka setelah lolos ke Piala Dunia 2026 di pusat kota Baghdad, Irak, Sabtu, 4 April 2026 [Hadi Mizban/ AP]
NEW YORK — Sepak bola sejak lama diagungkan sebagai The Beautiful Game karena kemampuannya yang magis untuk meruntuhkan sekat perbedaan dan menyatukan umat manusia. Namun, ketika turnamen olahraga terbesar di dunia ini mendarat di tanah Amerika Serikat, keajaiban tersebut seketika menguap, digantikan oleh dinding birokrasi, tarif mencekik, dan retorika perang yang dingin.
Ironi terbesar langsung menghantam tim nasional putra Iran. Setelah sukses mengamankan tiket lolos ke putaran final, nasib partisipasi mereka kini justru digantungkan pada kemurahan hati selembar visa dari negara tuan rumah yang, secara sepihak, sedang melancarkan agresi militer terhadap negara mereka.
Menghukum Lapangan Hijau dengan Aturan Gedung Putih
Di bawah perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, AS secara agresif menghentikan penerbitan visa bagi sejumlah negara yang mereka cap sebagai “sponsor terorisme”, termasuk Iran. Akibatnya, skuad asuhan Amir Ghalenoei harus mempersiapkan diri di bawah bayang-bayang trauma emosional yang mendalam.
Bagi para pemain, konflik ini bukan sekadar berita di televisi; serangan rudal gabungan AS-Israel telah merenggut nyawa ribuan rekan senegara mereka, termasuk insiden tragis pemboman Stadion Azadi—tempat latihan mereka sendiri—dan pembantaian siswa sekolah di Minab.
Akibat intrik politik ini, timnas Iran bahkan terpaksa mengungsi dan memindahkan markas persiapan mereka ke Meksiko.
“Olahraga tidak pernah bisa benar-benar dipisahkan dari dimensi geopolitik yang lebih luas,” ujar Khayran Noor, seorang pengacara olahraga internasional yang berbasis di Kenya. “Jika partisipasi dibentuk oleh realitas geopolitik di luar permainan, bukankah itu merusak cita-cita inklusif yang diklaim oleh turnamen ini? Sepak bola itu global, tetapi mobilitas global tidak.”
Tembok Visa: Diskriminasi Finansial Terhadap Belahan Bumi Selatan
Sikap pilih-pilih AS sebagai tuan rumah tidak hanya menyasar para pemain, tetapi juga menghancurkan impian para penggemar di belahan bumi selatan (Global South). Sebanyak 27 dari 48 negara peserta Piala Dunia diwajibkan mengajukan visa AS dengan biaya yang fantastis, berkisar antara $185 hingga $435. Bagi masyarakat di negara-negara berkembang, nominal ini setara dengan upah kerja keras mereka selama berbulan-bulan.
Sebagai contoh nyata, bulan lalu permohonan visa dari kelompok penggemar asal Ghana yang berjumlah hampir 150 orang ditolak mentah-mentah. Padahal, biaya pengajuan visa gabungan AS dan Kanada yang harus mereka bayar sudah setara dengan pendapatan per kapita bulanan di Ghana. AS memang meluncurkan Sistem Penjadwalan Janji Prioritas FIFA (PASS), namun sistem ini dikritik hanya sebagai kosmetik birokrasi karena sama sekali tidak menjamin kelulusan visa.
Bayang-Bayang Ketakutan di Bawah Aturan ICE
Selain faktor biaya dan penolakan sepihak, atmosfer ketakutan yang ditebarkan oleh otoritas imigrasi AS membuat banyak penggemar internasional berpikir dua kali untuk menginjakkan kaki di sana.
Organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch sempat melaporkan kasus mengerikan di mana seorang pencari suaka yang menghadiri final Piala Dunia Antarklub di New Jersey ditangkap oleh departemen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) lalu dideportasi di depan anak-anaknya.
“Dengan sikap Amerika khususnya terkait perlakuan terhadap imigran dan penggemar, saya tidak percaya sepenuhnya aman untuk hadir di sana,” kata Riaz Hamed, seorang pencinta sepak bola asal Afrika Selatan dengan nada skeptis.
Kontras dengan keangkuhan AS, negara tuan rumah bersama seperti Meksiko justru dipuji karena jauh lebih ramah dan mudah diakses. Negara seperti Afrika Selatan bahkan lebih memilih mengirim delegasi pendukung mereka ke Pachuca dan Mexico City untuk menghindari rumitnya urusan imigrasi AS.
Piala Dunia kali ini memicu pertanyaan mendasar bagi masa depan olahraga global: Apakah pantas hak penyelenggaraan diberikan kepada negara yang membarikade pintunya bagi dunia? Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah turnamen akbar dinilai dari siapa yang benar-benar bisa berpartisipasi di dalamnya, bukan siapa yang sekadar menonton dari balik layar kaca.
- Penulis: Yelki
- Editor: Hanny
