Gubernur Mahyeldi Apresiasi Gerakan Subuh Berjamaah dan Sumbar Bebas Narkoba
- account_circle Yelki
- calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
- print Cetak

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama jajaran Forkopimda dan tokoh adat memperkuat benteng ketahanan sosial melalui Gerakan Subuh Berjamaah dan Deklarasi Sumbar Bebas Narkoba. Aksi kolaboratif yang dipusatkan di Masjid Raya Syekh Khatib Al-Minangkabawi ini dinilai sebagai langkah nyata merawat falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di tengah tantangan zaman modern.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiasi bersama yang dimotori oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Polda Sumbar, Pemprov Sumbar, dan Pemkot Padang.
Menurutnya, kehadiran seluruh elemen—mulai dari pemerintah, aparat, ninik mamak, alim ulama, hingga cadiak pandai—adalah modal utama menjaga masa depan generasi muda.
“Alhamdulillah, kita melihat semangat kebersamaan yang sangat kuat dalam kegiatan ini. Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting dalam menjaga daerah tetap aman, harmonis, dan berkarakter,” ujar Mahyeldi usai kegiatan, Minggu (21/6/2026).
Gerakan ini tidak berhenti di dalam masjid. Usai ibadah, massa yang terdiri dari tokoh lintas elemen melakukan aksi damai dengan long march menuju Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sumbar. Rangkaian acara ditutup dengan penandatanganan spanduk komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan sosial dan menjaga identitas masyarakat Minangkabau.
Pesisir Padang sebagai Pusat Gerakan Peradaban
Dipilihnya kawasan pesisir Padang dan Masjid Raya sebagai pusat gerakan ini seolah merawat memori kolektif sejarah Sumatera Barat. Secara historis, wilayah pantai barat Sumatra, termasuk Padang, Pariaman, hingga Air Bangis, sejak era VOC telah menjadi entry point (pintu masuk) utama penyebaran peradaban, bahasa, dan literasi sebelum menyebar ke wilayah pedalaman (darek).
Jika pada abad lampau pesisir Sumbar menjadi pusat pelatihan aksara dan angka Latin oleh guru-guru melayu bentukan pemerintah untuk memperbanyak populasi melek huruf, kini di era modern, kawasan pesisir ini kembali mengambil peran sentral. Bedanya, fokus gerakan kini bergeser pada literasi moral, penguatan benteng agama, dan perang total melawan peredaran narkotika.
Mahyeldi berharap, nilai sejarah dan spiritual yang menyatu dalam kolaborasi ini bisa mewujudkan Sumatera Barat yang madani, unggul, dan berkeadaban.
Turut hadir dalam aksi tersebut Kapolda Sumbar, Ketua LKAAM Sumbar, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang, serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan setempat.
- Penulis: Yelki
