Bukan Kampung Kemarin Sore, Oedjoeng Gading Ternyata Sudah Eksis Sejak Era Pelabuhan Purba!
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- print Cetak

Pasar Oedjoeng Gading atau Ujung Gading di Kecamatan Lembah Melintang
PASAMAN BARAT – Nama Oedjoeng Gading atau Ujung Gading bukanlah nama kampung kemarin sore. Jauh sebelum nama Air Bangis dikenal luas dalam catatan kolonial, Oedjoeng Gading telah berdiri sebagai wilayah pemukiman kuno yang strategis. Berdasarkan analisis peta morpologi dan dokumen navigasi laut tempo doeloe, wilayah ini memiliki sejarah panjang yang membuktikan posisinya sebagai salah satu pusat peradaban tua di pesisir barat Sumatera.
Banyak masyarakat modern keliru memahami garis waktu berdirinya kedua wilayah ini. Namun, rekonstruksi sejarah berbasis sumber primer—bukan sekadar cerita lisan—menunjukkan fakta yang sebaliknya.
Satu Aliran Dua Nama: Hubungan Hulu dan Hilir
Serupa dengan pola penamaan Pasaman dan Batahan, nama Oedjoeng Gading dan Air Bangis sejatinya merujuk pada identitas sungai yang sama. Sungai Oedjoeng Gading adalah nama yang disematkan untuk wilayah hulu, sementara ketika aliran air tersebut mencapai hilir, masyarakat mengenalnya sebagai Sungai Air Bangis.
Pada peta-peta tertua seperti Peta 1665, nama tempat atau sungai Air Bangis belum dikenal; penanda yang teridentifikasi hanyalah Batahan, Sikarbou (Sikabau), dan Pasaman. Baru beberapa dekade kemudian, tepatnya pada Peta 1695, nama Oedjoeng Gading dan Air Bangis muncul bersamaan sebagai penanda navigasi. Dalam konteks ini, Sikarbou merupakan nama sungai yang melintasi pemukiman Oedjoeng Gading, yang di kemudian hari jalurnya berubah akibat dinamika alam.
Saksi Bisu Sensus 1930 dan Hubungan Darah Mandailing
Berdasarkan data sensus penduduk tahun 1930, mayoritas mutlak penduduk Oedjoeng Gading dicatat sebagai orang Mandailing. Fakta demografis ini menjadi petunjuk penting bahwa Oedjoeng Gading bukanlah pemukiman baru, melainkan sebuah kampung besar yang telah eksis sejak lama.
Mengingat lokasinya yang terhubung dekat dengan centrum (pusat) Mandailing di kawasan pegunungan, penduduk kuno Oedjoeng Gading memiliki ikatan kekerabatan yang sangat erat dengan masyarakat pedalaman.
Kampung ini diduga kuat berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan (feeder) utama untuk membawa komoditas dari pedalaman Mandailing dan Rao menuju jalur perdagangan laut internasional.
Letusan Gunung Berapi dan Terbentuknya Daratan Baru
Secara empiris, rekonstruksi geografis menunjukkan bahwa ribuan tahun lalu, kawasan yang kini menjadi daratan Air Bangis merupakan bagian dari perairan laut. Kampung Oedjoeng Gading kala itu berada tepat di tepi pantai dan berfungsi sebagai muara langsung Sungai Sikarbou.
Perubahan drastis morfologi tanah terjadi akibat aktivitas vulkanik luar biasa di masa lalu—diduga berasal dari letusan Gunung Malintang atau Gunung Koelaboe. Aliran lumpur dan material vulkanik dalam volume masif terbawa oleh aliran Batang Si Kilang dan Batang Sikarbou, menciptakan proses sedimentasi hebat yang membentuk kawasan rawa-rawa luas di antara pantai dan Oedjoeng Gading (seperti yang terekam dalam peta morfologi tahun 1904).
Proses Terbentuknya Air Bangis:
Tahap Purba: Gunung Djawi-Djawi dan Bukit Pintjoeran awalnya adalah dua pulau terisolasi di tengah laut lepas.
Proses Sedimentasi: Lumpur vulkanik membendung teluk, membentuk pulau sedimen baru yang dalam dokumen Peta 1657 disebut sebagai Pulo Baby (Pulau Babi).
Pengalihan Sungai: Akibat Delta/Pulau Babi yang semakin membengkak, aliran Sungai Sikarbou terhalang dan terpaksa mencari jalan baru menuju celah antara daratan dan Bukit Pintjoeran.
Lahirnya Pemukiman Baru: Di sekitar muara baru hasil sedimentasi inilah muncul kampung baru yang dinamakan Air Bangis.
Seiring waktu, Pulau Babi menyatu sepenuhnya dengan daratan hingga namanya hilang dari sejarah lokal. Fenomena geologis ini serupa dengan kasus Pulau Sicanang di Deli, yang kini menyatu menjadi daratan akibat sedimentasi muara Sungai Deli dan Sungai Hamparan Perak, namun namanya tetap dipertahankan oleh penduduk setempat.
Metodologi Sejarah: Mengapa Peta Lebih Valid dari Cerita Lisan?
Penulisan sejarah Oedjoeng Gading ini mengutamakan rujukan bernilai validitas tinggi, seperti peta navigasi VOC tahun 1695 dan 1753, alih-alih mengandalkan tradisi lisan (turi-turian). Peta navigasi kolonial dibuat berdasarkan pengukuran kedalaman laut secara matematis untuk keperluan pelayaran nyata, sehingga datanya jauh lebih objektif.
Mengandalkan ingatan lisan tetua kampung atau turi-turian yang baru ditulis pada tahun 1900-an sering kali mengaburkan fakta kronologis dan detail kuantitatif (seperti ukuran kedalaman teluk). Dengan terbukanya akses arsip berbahasa Belanda saat ini, rekonstruksi sejarah lokal Indonesia dapat dilakukan secara ilmiah demi meluruskan garis waktu peradaban di pesisir Sumatera Barat.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
- Sumber: https://poestahadepok.blogspot.com/2020/04/sejarah-air-bangis-22-sejarah-ujung.html#more
