Kementerian ESDM Garansi Harga Pertamax Segera Turun Jika Minyak Dunia Merosot
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Juru Bicara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Dwi Anggia memastikan harga BBM nonsubsidi akan ikut turun jika harga minyak dunia merosot. (Arsip Kementerian ESDM).
JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal positif terkait peluang penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, memastikan bahwa harga BBM nonsubsidi di dalam negeri akan langsung disesuaikan ke arah yang lebih rendah apabila harga minyak mentah dunia mengalami kemerosotan.
“Nah, apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun,” ujar Anggia dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6).
Meski demikian, Anggia memberikan catatan bahwa mekanisme pasar ini juga berlaku sebaliknya. Apabila harga minyak mentah dunia melonjak akibat dinamika global, maka harga BBM nonsubsidi di Indonesia mau tidak mau harus ikut melakukan penyesuaian. Menurutnya, tren kenaikan harga nonsubsidi yang terjadi belakangan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga dirasakan lebih dulu oleh sejumlah negara lain.
“Seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis ini membuat para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Jadi kalau ditanya akan turun tidak (jika) harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM nonsubsidi,” tutur Anggia menjabarkan skema keekonomian tersebut.
Kebijakan Ketat Lindungi Harga BBM Subsidi
Di tengah fluktuasi harga komoditas energi nonsubsidi yang dinamis, Anggia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Langkah penahanan tarif energi subsidi ini diambil sebagai instrumen perlindungan bagi masyarakat yang dinilai rentan secara ekonomi.
Pemerintah menyadari bahwa daya beli masyarakat bawah harus dijaga dari hantaman ketidakpastian global. “Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apa pun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga,” ucap Anggia dengan tegas.
Sebagai informasi, saat ini harga Pertamax (RON 92) telah disesuaikan dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, untuk varian Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami peningkatan harga dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Pertamina Pertimbangkan Geopolitik dan Daya Beli
Dihubungi secara terpisah, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa penyesuaian harga komoditas nonsubsidi tersebut didasari oleh kalkulasi yang matang terhadap situasi luar negeri. Faktor utama yang memengaruhi kebijakan korporasi meliputi dinamika politik internasional serta pergerakan harga minyak di pasar global.
“Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” terang Simon melalui penjelasan tertulis di akun Instagram resmi @pertamina.
Senada dengan pernyataan Kementerian ESDM, Simon juga memastikan bahwa operasional distribusi dan harga jual BBM bersubsidi tidak akan mengalami perubahan. Komoditas Pertalite dipastikan tetap dipatok stabil pada harga Rp10.000 per liter, sedangkan untuk jenis Biosolar tidak bergeser dari angka Rp6.800 per liter sesuai dengan ketetapan yang dikeluarkan pemerintah.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
