KTT NATO Ankara Jadi Saksi Diplomasi Khusus Erdogan Jinakkan Donald Trump
- account_circle Adi Putra
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak
Menlu Turkiye Hakan Fidan
ANKARA – Menjinakkan ego seorang Donald Trump dalam panggung diplomasi internasional jelas bukan perkara mudah. Namun, Pemerintah Turkiye tampaknya punya kartu as. Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, baru-baru ini sesumbar bahwa kehadiran Presiden Amerika Serikat tersebut dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara pada 7-8 Juli mendatang, murni terjadi berkat pesona politik Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Dalam keterangannya kepada media saat melakukan kunjungan kerja ke Rusia, Fidan menyebut bahwa negara-negara di Eropa pun mafhum akan hal tersebut. Mereka meyakini status Turkiye sebagai tuan rumah dan figur Erdogan adalah formula utama yang membuat Trump sudi meluangkan waktu berharganya untuk terbang ke Ankara.
“Jika bukan karena presiden kami dan jika bukan karena Turkiye, Trump tidak akan datang dan secara de facto sudah menyatakan bahwa dia tidak menganggap pertemuan ini penting,” ujar Fidan dengan nada bangga.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sindiran halus bahwa tanpa adanya Erdogan, Trump mungkin lebih memilih menghabiskan akhir pekannya dengan bermain golf ketimbang mendengarkan keluhan sekutu Eropa.
Menurut Fidan, kehadiran Trump sangat krusial karena agenda utama KTT besok adalah membedah perbedaan pandangan yang cukup tajam antara Washington dan Eropa mengenai masa depan NATO. “Tidak mungkin mengambil keputusan dalam pertemuan yang tidak dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat,” tambahnya.
Hubungan ‘Spesial’ dengan Rusia dan Ketegaran Sikap Moskow
Selain pamer kedekatan dengan Trump, Fidan juga memanfaatkan momen kunjungannya untuk memperlihatkan kemesraan hubungan bilateral Turkiye dan Rusia. Di saat negara-negara Barat sibuk memberikan sanksi kepada Moskow, Turkiye justru mengaku memiliki hubungan yang “sangat khusus”.
“Bahkan ketika menghadapi perbedaan yang sangat serius, kami tetap mampu bekerja sama dan membangun kepercayaan,” kata Fidan. Sebuah kemampuan komunikasi yang tampaknya patut ditiru oleh pasangan kekasih yang hobi bertengkar.
Kendati demikian, dalam urusan perang Rusia-Ukraina, Fidan harus gigit jari karena sikap Moskow ternyata masih sekeras batu. Berdasarkan hasil pertemuannya dengan pejabat Kremlin, Rusia menegaskan tidak ada kata damai atau negosiasi sebelum persoalan wilayah Donetsk diselesaikan sesuai kemauan mereka.
Melihat peliknya situasi Eropa Timur, Fidan pun mempromosikan penguatan kerja sama regional melalui platform 3+3 (Turkiye, Rusia, Azerbaijan, Iran, Armenia, dan Georgia) agar negara-negara tetangga mengutamakan kolaborasi ketimbang sibuk berkompetisi saling mendominasi.
Sinyal positif pun datang dari Armenia, di mana PM Nikol Pashinyan mulai melunak dan menyambut pembukaan jalur perdagangan serta penerbangan langsung yang diinisiasi Erdogan.
Benang Kusut Nuklir Iran dan Sentilan Keras untuk Israel
Beralih ke Timur Tengah, Fidan membeberkan bahwa nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir masih berjalan merangkak akibat masalah teknis dan krisis kepercayaan.
Meskipun sudah ada kesepahaman prinsip untuk mengencerkan 400 kilogram uranium milik Iran, kedua negara masih berdebat kusir mengenai siapa yang harus memegang alat pengencer, siapa yang berhak mengawasi, serta bagaimana proses verifikasinya.
Proses negosiasi ini kian melambat karena Iran telanjur tidak percaya pada Amerika Serikat, ditambah situasi global yang diperparah oleh aksi pendudukan militer Israel di Lebanon.
Menlu Turkiye itu pun tidak setengah-setengah dalam melayangkan kritik tajam kepada pemerintahan Israel, yang disebutnya sebagai biang keladi kerusakan global.
“Israel menginginkan kehancuran di kawasan. Mereka ingin menduduki beberapa negara dan menerapkan teror. Hal ini berdampak buruk pada keamanan global dan ekonomi dunia,” tegas Fidan.
Fidan menyayangkan bahwa perhatian dunia internasional terhadap penderitaan di Gaza sempat teralihkan akibat perang urat saraf antara Iran, AS, dan Israel. Namun, ia memastikan bahwa Turkiye tidak tinggal diam.
Saat ini, Organisasi Intelijen Nasional Turkiye (MIT) dilaporkan tengah bekerja dalam senyap di balik layar untuk merancang kesepakatan kerangka kerja demi meloloskan negosiasi gencatan senjata tahap kedua di Gaza.
Public kini menanti, apakah kecerdikan intelijen dan diplomasi ala Ankara ini mampu membawa kedamaian nyata, atau justru kembali mentah oleh ego para penguasa dunia.
- Penulis: Adi Putra
- Editor: Hanny
