Kapus Ujung Gading Bela Anak Buah, Netizen Sibuk Rilis Daftar Dosa
- account_circle Irfansyah P
- calendar_month 53 menit yang lalu
- print Cetak

Ilustrasi - Menampilkan oknum petugas dengan ekspresi galak yang dramatis, kontras dengan sosok anak sekolah yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang kertas (simbol surat keterangan buta warna).
PASAMAN BARAT – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) idealnya menjadi tempat menyembuhkan penyakit. Namun, Puskesmas Ujung Gading di Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, tampaknya punya fungsi tambahan baru-baru ini, menjadi tempat yang sukses memicu air mata dan memancing kegaduhan jagat digital.
Layanan fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama ini mendadak viral setelah sebuah akun media sosial atas nama Inces Lubis menumpahkan kekecewaannya.
Dikisahkan, buah hatinya mendatangi Puskesmas Ujung Gading dengan niat sederhana: mengurus surat keterangan tes buta warna. Alih-alih pulang membawa selembar kertas hasil tes yang sah, sang anak justru pulang membawa rona merah di wajah dan tangis yang terisak-isak.
Diduga, oknum petugas medis atau bidan yang berjaga di sana mendadak berubah profesi menjadi orator ulung yang memarahi anak tersebut berulang kali. Tak tanggung-tanggung, sang anak juga diusir secara halus dan disuruh mencari peruntungan medis di faskes lain.
Bantahan Kepala Puskesmas: “Harus Makan Dulu dan Tertib Administrasi”
Gerah karena instansinya mendadak panen hujatan virtual, Kepala UPT Puskesmas Ujung Gading, Emilia, segera angkat bicara. Emilia membantah keras narasi bahwa anak buahnya hobi membentak pasien.
Menurut Emilia, tim dokter di bawah komandonya sudah bekerja super-disiplin sesuai standar operasional prosedur (SOP). Berdasarkan versinya, anak tersebut memang sudah diperiksa, tetapi nasib baik belum berpihak, ia dinyatakan tidak lolos tes buta warna.
”Tidak benar ada pembentakan. Dokter puskesmas telah melakukan tes buta warna pada anak tersebut dan tidak lolos. Dokter kemudian menyarankan agar anak tersebut datang lagi pada hari Senin dan dianjurkan untuk makan terlebih dahulu agar hasil tesnya lebih maksimal,” ujar Emilia melalui sambungan telepon seluler pada Minggu (21/6/2026) membela diri.
Sebuah tips medis yang cukup unik: tampaknya di Ujung Gading, asupan karbohidrat dipercaya bisa mendadak memperbaiki kemampuan retina mata dalam membedakan warna.
Tak hanya urusan perut, Emilia juga mengeluarkan kartu “tertib administrasi”. Setelah dicek, si anak ternyata warga Parit, Kecamatan Koto Balingka. Karena di daerah asal pasien sudah ada puskesmas sendiri, petugas pun menyarankan sang anak untuk “pulang kampung” saja demi estetika birokrasi rujukan yang rapi.
Guna meluruskan benang kusut ini, manajemen Puskesmas Ujung Gading berencana menggelar sidang klarifikasi lintas instansi pada hari Senin dengan mengundang orang tua pasien. Emilia juga bersikeras bahwa keluhan-keluhan miring dari masyarakat selama ini hanyalah produk “miskomunikasi” belaka.
Kotak Pandora Terbuka: Netizen Kompak “Review Jujur”
Sayangnya, klarifikasi resmi dari kepala puskesmas berbeda dengan komentar netizen, bak menyiram bensin ke api unggun. Netizen yang terlanjur gemas langsung menjadikan kolom komentar sebagai panggung “testimoni massal” mengenai indahnya pelayanan di Puskesmas Ujung Gading.
Akun Irsal Lobies, misalnya, membagikan kisah pilu saat mendampingi istrinya yang menderita luka bakar hingga 80 persen pada waktu subuh. Alih-alih diperiksa intensif oleh dokter, sang istri kabarnya hanya disentuh oleh perawat, diberi infus, lalu “dihadiahi” surat rujukan. Ironisnya, di tengah gegap gempita program jaminan kesehatan gratis Universal Health Coverage (UHC) yang dibanggakan pemerintah, ia mengaku tetap harus merogoh kocek sebesar Rp150.000.
Lain lagi cerita dari akun Zukni Faidah Ny Habibi. Ia menyoroti canggihnya sistem antrean di sana yang mendua—memadukan sistem manual dan aplikasi Mobile JKN secara tidak konsisten—ditambah bonus wajah masam dari petugas pendaftaran yang kurang ramah terhadap ibu hamil.
Sementara itu, akun Dek Lena harus menelan pil pahit ketika anaknya yang baru berusia satu tahun ditolak diperiksa dengan alasan klise: dokter anak belum datang, dan disarankan pindah ke klinik swasta.
Lebih ekstrem, akun Zainal Arifin Lubis bahkan melempar tuduhan fatal terkait buruknya penanganan persalinan yang lambat dirujuk hingga menyebabkan kematian bayi.
Meski gelombang kekesalan publik tak terbendung, beberapa netizen bijak seperti akun Asbetrix AZ dan Arif Budiman mencoba bertindak sebagai wasit. Mereka meminta masyarakat tetap berkepala dingin dan tidak langsung menghakimi faskes tersebut sebelum hasil investigasi hari Senin keluar.
Kini, publik menanti apakah pertemuan hari Senin besok akan melahirkan solusi yang sehat, atau justru kembali melahirkan drama birokrasi baru yang tak kalah menggelitik.***
- Penulis: Irfansyah P
