Timur Tengah Membara: Iran Balas Serang Pangkalan Udara AS, Pertahanan Udara Kuwait Siaga Satu
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- print Cetak

Ilustrasi: Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan ke pangkalan udara milik Amerika Serikat. Sementara itu, Kuwait menetapkan status siaga satu untuk sistem pertahanan udaranya di tengah ancaman eskalasi konflik kawasan.
JAKARTA — Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas ke tingkat yang mengkhawatirkan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/5/2026) subuh waktu setempat.
Berdasarkan laporan dari stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, aksi ini merupakan respons langsung atas agresi militer AS yang terjadi beberapa jam sebelumnya di wilayah selatan Iran.
“Menyusul agresi pagi ini oleh militer AS yang menyerang lokasi di pinggiran Bandara Bandar Abbas menggunakan proyektil udara, pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan tersebut telah menjadi sasaran pada pukul 04:50 pagi (01:20 GMT),” tulis pernyataan resmi IRGC yang dikutip via AFP.
Meski pihak Iran merahasiakan koordinat pasti pangkalan AS yang menjadi target, dampak dari serangan ini langsung terasa di negara tetangga. Otoritas militer Kuwait—yang dikenal sebagai sekutu dekat AS di kawasan tersebut—melaporkan adanya aktivitas pencegatan udara yang intensif di wilayah mereka.
“Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh,” ungkap perwakilan militer Kuwait melalui akun resmi mereka di platform X, Kamis (28/5).
Eskalasi di Selat Hormuz: Tembakan Peringatan ke Kapal Tanker AS
Sebelum kontak rudal dan drone tersebut pecah, situasi di jalur perdagangan laut paling krusial di dunia, Selat Hormuz, sudah lebih dulu mencekam. Teheran dilaporkan melepaskan tembakan peringatan ke arah sejumlah kapal asing yang mencoba menerobos masuk ke Teluk Persia.
“Empat kapal mencoba melewati Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa berkoordinasi dengan pasukan keamanan. Mereka telah diperingatkan, dan setelah mengabaikan peringatan tersebut, tembakan peringatan dilepaskan ke arah mereka, memaksa mereka berbalik arah,” tulis laporan media afiliasi pemerintah Iran yang dilansir CNN International.
Secara lebih spesifik, Kantor Berita Tasnim yang berafiliasi kuat dengan IRGC menyebutkan bahwa salah satu kapal yang dihalau dengan tembakan peringatan oleh Angkatan Laut IRGC tersebut merupakan kapal tanker minyak milik Amerika Serikat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rilis resmi dari Pentagon mengenai total kerugian atau korban jiwa akibat serangan balasan IRGC ini. Namun, keterlibatan aktif pertahanan udara Kuwait menandakan bahwa eskalasi konflik kali ini berpotensi menyeret kekuatan regional yang lebih luas.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
