Makan Bergizi Gratis Rp15 Ribu: Cukup Buat Operasional, Insentif, Plus Bahan Baku?
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- print Cetak

Ilustrasi Dapur MBG: Terlihat para petugas dapur (juru masak) perempuan mengenakan seragam putih, celemek, masker, dan penutup rambut (hairnet) sedang sibuk memporsi makanan secara higienis.
JAKARTA — Di tengah badai kebijakan efisiensi anggaran yang digalakkan pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN) tetap optimistis menjalankan mega proyek Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski sejumlah anggaran kegiatan dipotong, BGN mengklaim kualitas makanan untuk puluhan juta penerima manfaat tidak akan berkurang sedikit pun.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa pihaknya menyambut baik kebijakan pengetatan ikat pinggang dari pemerintah tersebut tanpa harus mengorbankan isi piring masyarakat.
“Jadi, BGN menyambut kebijakan pemerintah ini tanpa mengurangi kualitas (MBG). Tetap Rp15 ribu untuk porsi besar dan Rp13 ribu untuk porsi kecil,” ujar Sony, Jumat (29/5/2026).
Nilai Rp15 Ribu yang ‘Serba Bisa’
Berdasarkan rincian dari BGN, porsi besar seharga Rp15.000 diperuntukkan bagi siswa kelas 4 SD ke atas, ibu hamil, menyusui, hingga tenaga pendidik. Sementara itu, porsi kecil seharga Rp13.000 dialokasikan untuk balita hingga siswa kelas 3 SD.
Menariknya, nominal yang tergolong pas-pasan tersebut diklaim sudah mencakup seluruh komponen produksi.
“Itu (anggaran) terdiri dari uang operasional, insentif, dan bahan baku,” imbuh Sony. Publik kini menanti bagaimana formula BGN membagi anggaran tersebut agar tetap menghasilkan makanan bergizi tinggi di tengah ketidakpastian harga bahan pangan.
Kuota Penerima Membengkak, Daerah Terpencil Masih Menunggu
Tantangan BGN tidak hanya soal efisiensi uang, tetapi juga cakupan target. Saat ini, kebutuhan nasional untuk penyaluran MBG telah membengkak hingga mencakup 82,9 juta penerima manfaat karena adanya perluasan kategori.
Prioritas Penerima Manfaat
“Yang kita utamakan itu adalah ibu hamil, menyusui, anak balita, peserta didik, dan tenaga pendidik,” ucapnya.
Di sisi lain, dari target 30.000 lokasi dapur MBG skala nasional, BGN mencatat sebanyak 29.400 dapur telah lolos verifikasi, dan 27.900 di antaranya sudah beroperasi. Walau secara persentase sudah mencapai 80 persen, realisasi di kawasan pelosok tampaknya masih harus tertunda.
“Sisanya, kita menunggu hasil validasi data riil, terutama untuk daerah terpencil,” pungkas Sony.
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Hanny
