BREAKING NEWS
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Profesor Mas Mera Soroti Salah Kaprah Istilah Astronomi di Masyarakat

Profesor Mas Mera Soroti Salah Kaprah Istilah Astronomi di Masyarakat

  • account_circle Prof. Ir. Mas Mera, Ph.D
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Prof. Ir. Mas Mera, Ph.D. (Dosen Fakultas Teknik Universitas Andalas)

Bahasa adalah jembatan bagi manusia untuk memahami alam. Namun, dalam dunia astronomi, jembatan ini sering kali justru menyesatkan. Terdapat sebuah ironi saat istilah-istilah yang kita gunakan sehari-hari justru bertolak belakang dengan realitas fisika yang terjadi di atas cakrawala. Sebagai seorang akademisi yang terbiasa bekerja dengan data presisi, saya merasa penting untuk meluruskan distorsi bahasa ini agar publik tidak terus terjebak dalam pemahaman yang romantis, namun keliru secara sains.

Bulan Biru dan Mitos Warna

Salah satu istilah yang paling sering memicu harapan palsu adalah Blue Moon atau “Bulan Biru”. Ketika media mengabarkan akan terjadinya Blue Moon, publik sering membayangkan pemandangan langit yang eksotis: bulan berubah warna menjadi biru elektrik atau indigo. Faktanya? Bulan tetap berwarna pucat kekuningan atau keabuan seperti biasanya.

Secara astronomis, Blue Moon tidak merujuk pada pigmen warna sama sekali. Istilah ini murni merupakan konstruksi kalender masehi, yaitu penyebutan untuk bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender yang sama. Ini adalah masalah aritmetika waktu, bukan masalah optik atau atmosfer. Mengaitkannya dengan warna adalah sebuah kekeliruan fatal yang mencederai nalar observasi kita. Ini adalah contoh bagaimana bahasa yang puitis sering kali “berbohong” pada fakta empiris.

New Moon: Saat Bulan Justru “Hilang”

Ironi yang lebih dalam terjadi pada istilah New Moon atau “Bulan Baru”. Bagi masyarakat awam, istilah “baru” selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang baru saja muncul dan siap untuk dilihat. Namun, realitas fisiknya justru sebaliknya: pada fase New Moon, bulan berada di antara bumi dan matahari, dengan sisi gelapnya yang menghadap ke bumi.

Secara fisik, New Moon justru adalah fase di mana bulan sama sekali tidak tampak (no moon to look at). Ia “hilang” dari pandangan karena tertutup cahaya matahari atau berada sangat dekat dengan siluet matahari. Menggunakan istilah “Bulan Baru” untuk menyebut fase bulan mati adalah sebuah paradoks bahasa yang sangat membingungkan. Jika kita konsisten dengan terminologi sains, kita seharusnya menyebutnya sebagai fase konjungsi, karena secara visual, bulan justru sedang tidak ada (absent).

Lubang Hitam dan Nebula yang Salah Alamat

Kekeliruan terminologi ini tidak berhenti pada fase bulan. Lihatlah Black Hole atau “Lubang Hitam”. Begitu kita menyebutnya “lubang”, imajinasi kita langsung terperangkap pada konsep ruang kosong atau terowongan hampa. Padahal, Black Hole adalah objek paling padat di alam semesta. Ia bukan ruang kosong, melainkan massa yang luar biasa besar yang terkonsentrasi di satu titik (singularity), dengan gravitasi yang begitu rakus sehingga cahaya pun tertangkap di sana. Ia bukan “lubang” dalam pengertian ruang hampa, melainkan “benda” dengan densitas tak terhingga.

Begitu pula dengan Planetary Nebula atau “Nebula Planet”. Istilah ini adalah warisan dari teleskop kuno yang resolusinya rendah. Astronom masa lalu melihat objek ini berbentuk bulat dan samar, lalu mereka—dengan terburu-buru—melabelinya sebagai “planet”. Padahal, objek tersebut adalah sisa-sisa kematian sebuah bintang. Tidak ada planet di sana; yang ada hanyalah debu gas yang terlempar ke angkasa. Kesalahan penamaan ini membeku dalam literatur, meskipun secara fisik sudah terbukti salah ratusan tahun lalu. Mengapa kita membiarkan kesalahan sejarah ini terus bercerawat dalam kamus sains modern kita?

Pentingnya Presisi Terminologi

Mengapa kita harus peduli pada kesalahan penamaan ini? Karena dalam sains, terminologi adalah cerminan dari cara kita berpikir. Ketika kita terbiasa menerima istilah yang salah secara fisika hanya karena “sudah lazim digunakan”, kita sedang menurunkan standar ketajaman nalar kita sendiri. Sains bukanlah soal puitisasi atau sekadar mencari istilah yang terdengar indah di telinga. Sains adalah tentang presisi. Ketika kita menyebut New Moon padahal bulan tidak tampak, kita sedang tidak jujur pada apa yang kita lihat.

Ilmuwan memiliki tanggung jawab epistemologis—tanggung jawab terhadap kebenaran pengetahuan. Kita tidak boleh membiarkan masyarakat terus-menerus disuguhi pemahaman yang keliru demi alasan kenyamanan bahasa. Literasi sains bukan sekadar tentang menghafal rumus, melainkan tentang bagaimana kita memiliki kerangka berpikir yang kritis terhadap setiap label yang disematkan pada objek-objek alam semesta.

Menyembuhkan Krisis Literasi

Kegagalan kita dalam mendefinisikan istilah secara presisi sering kali menjadi pintu masuk bagi pseudosains atau takhayul. Ketika masyarakat tidak paham apa itu fase bulan, mereka mudah percaya pada mitos-mitos tentang pengaruh bulan pada perilaku manusia atau keberuntungan. Sebaliknya, jika kita mengajarkan masyarakat bahwa New Moon hanyalah posisi mekanis bulan dalam tata surya, kita sedang membangun fondasi berpikir rasional.

Sebagai pengajar, saya sering menekankan kepada mahasiswa bahwa nama adalah konvensi, tetapi data adalah kebenaran. Jangan pernah membiarkan label menutup mata kita dari realitas. Jika sebuah istilah menyesatkan pemahaman publik tentang hukum alam, maka tugas ilmuwan adalah untuk mengoreksinya, bukan membiarkannya. Kita harus menjadi agen literasi yang berani membongkar “kebohongan” istilah-istilah yang tidak relevan ini.

Kembali pada Nalar yang Sehat

Mari kita jadikan fenomena kesalahan penamaan ini sebagai pengingat untuk senantiasa kritis. Jangan mudah percaya pada apa yang terdengar manis di permukaan tanpa memverifikasi apa yang terjadi di balik hukum fisika. Alam semesta bekerja dengan hukum yang pasti (Sunnatullāh), yang tidak peduli pada strata sosial manusia maupun pada kesepakatan istilah yang salah kaprah.

Pada akhirnya, kejujuran intelektual dimulai dari bagaimana kita menamai sesuatu secara benar. Jika bulan memang tidak tampak, katakanlah ia sedang hilang, bukan “Bulan Baru”. Karena pada akhirnya, ketaatan pada data jauh lebih berharga daripada keindahan sebuah nama. Saatnya kita menanggalkan romantisme istilah yang menyesatkan, dan menggantinya dengan kejujuran sains yang murni dan presisi. Sebab, di langit yang luas itu, kebenaran tidak pernah meminta izin kepada nama-nama indah kita; ia berdiri tegak dengan hukumnya sendiri yang tak terbantahkan.

  • Penulis: Prof. Ir. Mas Mera, Ph.D
  • Editor: Irfan

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pendapatan Daerah Capai Target, Pasaman Barat Raih WTP dari BPK

    Pendapatan Daerah Capai Target, Pasaman Barat Raih WTP dari BPK

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Irfansyah P
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Pasaman Barat – Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat kembali mencatatkan prestasi dalam pengelolaan keuangan daerah dengan meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2025. Prestasi tersebut disampaikan Bupati Pasaman Barat, Yulianto, saat menyampaikan Nota Pengantar Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten Pasaman […]

  • Posko Tim Klewang di Tarandam Jadi Pusat Pelaporan Instan, Warga Padang Kini Lebih Cepat Melapor Kriminalitas

    Posko Tim Klewang di Tarandam Jadi Pusat Pelaporan Instan, Warga Padang Kini Lebih Cepat Melapor Kriminalitas

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Hanny
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Padang, SUMBARBIZ – Masyarakat Kota Padang kini memiliki akses lebih mudah dan cepat dalam melaporkan berbagai tindak kriminalitas. Keberadaan Posko Tim Klewang yang berlokasi di Jalan Tarandam III, Sawahan (dekat Oz Social Bar), mulai dimanfaatkan warga sebagai pusat pelaporan instan. Kehadiran posko ini menjadi solusi konkrit bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan hukum secara cepat tanpa […]

  • Diduga Lakukan Razia Tanpa PKS, Satpol PP Payakumbuh Dinilai Langgar Batas Wilayah Lima Puluh Kota

    Diduga Lakukan Razia Tanpa PKS, Satpol PP Payakumbuh Dinilai Langgar Batas Wilayah Lima Puluh Kota

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Ril
    • visibility 97
    • 0Komentar

    PAYAKUMBUH – Sebuah operasi penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Payakumbuh kini menuai sorotan setelah diketahui berlangsung beberapa hari sebelum adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) resmi dengan Satpol PP Kabupaten Lima Puluh Kota. Jika biasanya administrasi berjalan lebih dahulu lalu tindakan menyusul, dalam kisah ini justru terjadi sebaliknya. Ibarat menonton film […]

  • Real Madrid Dekati Barcelona Setelah Kalahkan Alaves

    Real Madrid Dekati Barcelona Setelah Kalahkan Alaves

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Hanny
    • visibility 70
    • 0Komentar

    SUMBARBIZ – Kylian Mbappe dan Vinicius Junior masing-masing mencetak gol saat Real Madrid mengakhiri rentetan empat pertandingan tanpa kemenangan dengan mengalahkan Alaves 2-1 untuk semakin mendekati pemimpin klasemen Liga Spanyol, Barcelona. Kemenangan pada hari Selasa di Stadion Bernabeu membuat Madrid tertinggal enam poin dari Barcelona, ​​yang akan menjamu Celta Vigo yang berada di peringkat keenam […]

  • Harga Emas Antam Naik Hari Ini Menyentuh Dua Juta Rupiah Lebih

    Harga Emas Antam Naik Hari Ini Menyentuh Dua Juta Rupiah Lebih

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Yelki
    • visibility 25
    • 0Komentar

    JAKARTA – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan tren positif pada sesi perdagangan Rabu (17/6). Harga dasar komoditas pelindung nilai (safe haven) tersebut untuk ukuran 1 gram kini bertengger di level Rp2,733 juta. Posisi ini menunjukkan penguatan jika dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Merujuk data resmi dari situs Logam Mulia Antam, […]

  • CEO Apple Berganti, Tim Cook Akhiri Masa Kepemimpinan

    CEO Apple Berganti, Tim Cook Akhiri Masa Kepemimpinan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Yelki
    • visibility 21
    • 0Komentar

    SUMBARBIZ – CEO Apple, Tim Cook, mengundurkan diri dari jabatan yang diwarisinya dari mendiang Steve Jobs, mengakhiri masa kepemimpinan hampir 15 tahun yang menyaksikan nilai pasar perusahaan melonjak lebih dari $3,6 triliun selama era kemakmuran yang didorong oleh iPhone. Perusahaan tersebut telah membuat pengumuman. Cook, 65, akan menyerahkan tugas CEO kepada kepala teknik perangkat keras […]

expand_less