BREAKING NEWS
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Nasib Tragis Pasaman Barat Dijepit Konflik Agraria Dan Gurita Emas Ilegal

Nasib Tragis Pasaman Barat Dijepit Konflik Agraria Dan Gurita Emas Ilegal

  • account_circle Endri Caniago
  • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
  • print Cetak

PASAMAN BARAT — Kerusakan ekologis di berbagai daerah sering kali menempatkan dua aktor utama di hadapan hukum: korporasi besar berskala nasional dan aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Meski keduanya meninggalkan jejak kerusakan yang nyata terhadap alam, kedua model ini memiliki penetrasi sosial, distribusi ekonomi, dan dampak konflik hilir yang bertolak belakang. Realitas kontras ini tergambar jelas di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Berdasarkan data lapangan, aktivitas korporasi yang melakukan perluasan perkebunan kelapa sawit kerap memicu ketimpangan sosial yang mendalam. Mayoritas perusahaan condong mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah—mencapai 70 persen dari total pekerja.

Alhasil, perputaran ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir elite pemegang saham dan pekerja pendatang. Warga asli kerap terpinggirkan di tanah ulayatnya sendiri, bertahan hidup sebagai buruh kasar dengan upah minim di tengah bayang-bayang kemiskinan.

Kondisi ini diperparah oleh tingginya tensi konflik agraria. Di Pasaman Barat, sengketa lahan umumnya meletus di wilayah operasional korporasi, di mana perusahaan kerap bersinggungan dengan klaim tanah adat milik masyarakat setempat demi memperluas konsesi mereka.

Sebaliknya, potret yang jauh berbeda terlihat pada aktivitas penambangan emas tidak berizin, seperti yang marak di kawasan Tombang dan Kiawai. Meskipun aktivitas ini merusak Daerah Aliran Sungai (DAS), memicu abrasi, dan mencemari ekosistem air, roda ekonominya justru digerakkan sepenuhnya oleh warga lokal.

Berbeda dengan korporasi yang aliran dananya tersentralisasi ke kantor pusat, hasil dari tambang emas ini didistribusikan secara desentralistik ke berbagai lini di tingkat akar rumput. Sistem bagi hasil mengalir ke tokoh adat, pemilik lahan, kas sosial desa, hingga organisasi kepemudaan setempat.

Dampak instannya terlihat nyata, perekonomian warga di sekitar objek tambang melonjak drastis. Banyak warga lokal yang mengalami lompatan kesejahteraan secara cepat, bahkan mampu memiliki kendaraan mewah.

Dilema Sosiologi Ekologi: “Keadilan Distribusi” di Atas Ruang Hidup yang Merapuh

Secara sosiologi ekologi dan ekonomi politik, fenomena di Pasaman Barat ini memperlihatkan benturan dua model eksploitasi alam dengan karakteristik yang bertolak belakang:

1. Model Korporasi: Kolonisasi Ruang dan Marginalisasi

Model ini mencerminkan praktik penguasaan lahan skala besar atas nama pembangunan ekonomi. Karakter utamanya meliputi deforestasi hutan yang masif dan hilangnya keanekaragaman hayati. Karena minim melibatkan warga lokal (hanya mempekerjakan sekitar 30 persen), model ini memutus hubungan emosional warga dengan tanahnya dan memicu konflik agraria vertikal antara masyarakat adat melawan korporasi. Daerah kerap kali hanya mendapatkan dampak ekologis jangka panjang, seperti risiko banjir bandang akibat gundulnya hutan di wilayah hulu.

2. Tambang Ilegal: Jaring Pengaman Ekonomi Berbiaya Lingkungan

Aktivitas PETI di tingkat lokal berhasil menciptakan sistem “keadilan distribusi ekonomi” jangka pendek yang diadopsi sebagai jaring pengaman sosial saat lapangan kerja formal sulit diakses. Karena melibatkan seluruh struktur sosial desa, aktivitas ini mendapat legitimasi sosial yang sangat kuat dari warga. Namun, biaya lingkungannya sangat mahal, pencemaran merkuri pada sumber air dan kerusakan fisik sungai yang mengancam kesehatan masyarakat serta memicu potensi konflik horizontal antar-warga di masa depan.

Mencari Jalan Keluar yang Adil dan Aman

Benang merah dari kondisi ini menunjukkan bahwa kedua sektor sama-sama melakukan eksploitasi lingkungan. Bedanya, kehadiran korporasi yang tidak inklusif kerap memisahkan masyarakat dari ruang hidupnya hingga memicu kemiskinan, sedangkan tambang ilegal justru merangkul masyarakat untuk bersama-sama mengikis ruang hidup mereka demi pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Oleh karena itu, penegakan hukum tidak bisa hanya menggunakan pendekatan represif yang disamaratakan.

Bagi sektor korporasi, pemerintah perlu melakukan audit ketenagakerjaan yang ketat serta mempercepat reformasi agraria agar hak-hak tanah adat masyarakat terlindungi. Sementara untuk aktivitas tambang rakyat, pemerintah dituntut hadir memberikan solusi transisi ekonomi yang konkret, atau melakukan formalisasi melalui Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang legal dan terbina secara ekologis. Langkah ini penting agar ketahanan ekonomi warga tetap terjaga tanpa harus mengorbankan masa depan lingkungan hidup mereka.

  • Penulis: Endri Caniago
  • Editor: Hanny

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakar Unand Prof Mas Mera Ingatkan Bahaya Salah Bangun Groin

    Pakar Unand Prof Mas Mera Ingatkan Bahaya Salah Bangun Groin

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Irfansyah P
    • visibility 15
    • 0Komentar

    PADANG — Urusan menjinakkan hantaman ombak di pesisir pantai ternyata tidak bisa modal nekat dan semen instan belaka. Jika salah perhitungan, alih-alih menyelamatkan pantai dari abrasi, infrastruktur yang dibangun justru bisa mengundang bahaya maut bagi wisatawan yang sedang asyik berenang. Peringatan keras sekaligus ilmiah ini dilontarkan langsung oleh pakar teknik dari Fakultas Teknik Universitas Andalas […]

  • Data BPS: Angkatan Kerja Pasaman Barat Tumbuh 2,92 Persen

    Data BPS: Angkatan Kerja Pasaman Barat Tumbuh 2,92 Persen

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 26
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasaman Barat resmi menerbitkan laporan publikasi terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan daerah. Laporan berkala ini secara khusus memotret indikator-indikator penting ketenagakerjaan hingga periode Agustus 2024 dengan tahun rilis 29 Agustus 2025. Data yang dirilis ke publik ini dihimpun secara komprehensif melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Melalui instrumen […]

  • Polda Sumbar Rilis Kasus 2026, Total 916 Tersangka Berhasil Ditangkap

    Polda Sumbar Rilis Kasus 2026, Total 916 Tersangka Berhasil Ditangkap

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Irfansyah P
    • visibility 15
    • 0Komentar

    PADANG – Mengawali pertengahan tahun 2026, Korps Bhayangkara di Ranah Minang tampaknya sedang rajin-rajinnya “bersih-bersih” lingkungan. Bagi para pelaku kriminal yang mengira bisa liburan santai di paruh pertama tahun ini, maaf sekali, perkiraan Anda salah besar. Kepolisian Daerah Sumatra Barat (Polda Sumbar) baru saja membagikan rapor performa mereka yang membuat dahi para penjahat berkerut lelap. […]

  • Bupati Pasaman Barat Perjuangkan Revitalisasi 59 Sekolah ke Kemendikdasmen

    Bupati Pasaman Barat Perjuangkan Revitalisasi 59 Sekolah ke Kemendikdasmen

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Hanny
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Pasaman Barat, SUMBARBIZ – Bupati Pasaman Barat Yulianto memperjuangkan bantuan dana tambahan revitalisasi serta rencana pengembangan sekolah terintegrasi ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah(Kemendikdasmen), Jakarta Pusat. Selain itu, Bupati Yulianto juga memperjuangkan rencana pengembangan sekolah terintegrasi, pada Rabu (6/5). Dalam pertemuan tersebut, Bupati Yulianto didampingi Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat, Imter Pedri. Audiensi diterima oleh […]

  • Produksi Capai 196 Ribu Ton, Pemkab Pasbar Dorong Sektor Jagung Jadi Motor Ekonomi Daerah

    Produksi Capai 196 Ribu Ton, Pemkab Pasbar Dorong Sektor Jagung Jadi Motor Ekonomi Daerah

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Irfansyah P
    • visibility 66
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT – Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat terus berkomitmen mendorong penguatan sektor jagung sebagai komoditas unggulan daerah. Langkah strategis ini ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah Komoditas Jagung yang diselenggarakan di Auditorium Kantor Bupati Pasaman Barat, Rabu (20/5). Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah Pasaman Barat, Doddy San Ismail, yang hadir membacakan sambutan […]

  • Pelansir Sebabkan Krisis Pertalite dan Solar di SPBU Pasaman Barat

    Pelansir Sebabkan Krisis Pertalite dan Solar di SPBU Pasaman Barat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Endri Caniago
    • visibility 27
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT — Bagi warga Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, mengantre bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kini bukan lagi sekadar urusan mengisi tangki kendaraan. Kegiatan ini telah bertransformasi menjadi ritual wajib penuh kepasrahan, tempat kesabaran warga diuji hingga batas maksimal. Fenomena antrian panjang di SPBU telah bergeser dari kekacauan lalu lintas biasa menjadi satir kehidupan: […]

expand_less