Bahasa Prancis Bakal Wajib di Sekolah? Politikus PDIP Ingatkan Prabowo Soal Beban Kurikulum
- account_circle Hanny
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- print Cetak

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak terburu-buru merencanakan kebijakan mewajibkan mata pelajaran Bahasa Prancis di seluruh jenjang pendidikan. Menurutnya, kebijakan pendidikan harus dikaji secara matang dengan mempertimbangkan kebutuhan nasional serta kesiapan sistem pendidikan di Indonesia.
JAKARTA — Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mewajibkan mata pelajaran bahasa Prancis di seluruh tingkatan sekolah menuai kritik dari parlemen. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Andreas Hugo Pareira, mengingatkan Kepala Negara agar tidak asal memasukkan mata pelajaran baru ke dalam kurikulum nasional hanya berdasarkan momentum diplomatik.
Menurut Andreas, penetapan mata pelajaran di sekolah—termasuk bahasa asing—sudah diatur secara matang dalam kurikulum nasional. Meski mengakui bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa pergaulan internasional yang penting, ia menilai tidak serta-merta bahasa tersebut harus berstatus wajib bagi seluruh siswa di Indonesia.
“Saya kira di kurikulum kita sudah ditentukan, ya, bahasa-bahasa apa yang penting,” ujar mantan anggota Komisi Pendidikan DPR tersebut saat menghadiri acara Bimbingan Teknis (Bimtek) PDI Perjuangan di Jakarta, Sabtu (30/5).
Jangan Mudah Terpengaruh Kunjungan Kenegaraan
Andreas berharap Presiden Prabowo ke depan tidak mudah mengeluarkan instruksi perubahan kurikulum pendidikan setiap kali usai melakukan pertemuan bilateral dengan kepala negara lain.
“Jadi, jangan nanti kalau kita ketemu apa, pemimpin dari suatu negara terus kemudian bahasa itu menjadi kurikulum wajib,” sentil Andreas.
Ia menjelaskan bahwa saat ini bahasa asing yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia adalah bahasa Inggris. Bagi Andreas, fokus utama pendidikan bahasa saat ini seharusnya adalah memperkuat penguasaan bahasa Indonesia dan memperkokoh kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa global utama.
“Kalau menjadi kurikulum wajib, saya kira kita perlu bahasa Inggris, kita perlu memperkuat bahasa Indonesia. Dan itu yang paling penting untuk pembinaan pendidikan, terutama pendidikan bahasa,” imbuhnya.
Lebih Cocok Jadi Mata Pelajaran Pilihan
Lebih lanjut, Andreas menilai pernyataan Prabowo di Paris tak lebih dari sekadar bahasa diplomatik untuk menyenangkan negara tuan rumah. Namun, jika ingin diimplementasikan, status bahasa Prancis sebaiknya ditempatkan sebagai opsi atau muatan lokal bagi sekolah-sekolah yang memang memiliki sumber daya pengajar yang siap.
“Silakan bahwa bahasa Prancis sebagai bahasa pilihan, ya oke bisa aja gitu. Bahasa Mandarin, bahasa Jepang mungkin, dan bahasa-bahasa yang lain. Nah, itu menjadi kurikulum tambahan untuk anak-anak,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam kunjungan kenegaraan di Istana Elysee, Paris, Kamis (28/5), Presiden Prabowo Subianto menyatakan keinginannya agar bahasa Prancis mulai diajarkan di semua jenjang sekolah di Indonesia.
Prabowo menilai langkah ini penting demi memperluas kerja sama di bidang pendidikan, sains, dan teknologi, sekaligus merespons perkembangan dunia ke depan.
- Penulis: Hanny
