Mengenal Trionda, Bola Canggih Piala Dunia 2026 yang Dilengkapi Sensor 500 Hz dan AI
- account_circle Yelki
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- print Cetak

Bola Piala Dunia FIFA Trionda dan Tiga warna berbeda digunakan dalam Trionda. | Gambar oleh Adidas.
BOLA – Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia olahraga modern. Mulai dari penggunaan pelacak Hawk-Eye dalam olahraga kriket hingga snickometer dalam olahraga raket, inovasi digital kini kerap menjadi penentu hasil akhir sebuah pertandingan.
Menjelang gelaran Piala Dunia FIFA 2026, sorotan utama tertuju pada sebuah mahakarya teknologi canggih yang akan menggelinding di lapangan hijau: bola resmi turnamen yang diberi nama Trionda.
Makna di Balik Nama ‘Trionda’
Piala Dunia FIFA kali ini akan dihelat di tiga negara tuan rumah sekaligus, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Identitas ini tertuang langsung dalam nama bola resminya. Kata “Tri” melambangkan ketiga negara tersebut, sementara “Onda” merupakan bahasa Spanyol yang berarti “gelombang”.
Secara harfiah, Trionda berarti “tiga gelombang”, yang direpresentasikan melalui desain visual bola dengan tiga gelombang warna berbeda: merah, hijau, dan biru. Ketiga warna ini merupakan bentuk penghormatan bagi tiga negara penyelenggara.
Sensor Gerak 500 Hz dan Perubahan Posisi Chip
Diproduksi oleh Adidas—mitra resmi bola Piala Dunia sejak 1970—Trionda mengusung teknologi bola terhubung (connected ball technology) untuk membantu wasit dan sistem Video Assistant Referee (VAR) mengambil keputusan secara cepat dan akurat.
Di dalam bola seberat beberapa ratus gram ini, tertanam sebuah chip sensor gerak 500 Hz dengan bobot hanya 14 gram. Chip ini mampu mendeteksi setiap sentuhan secara instan serta melacak kecepatan, putaran, posisi, hingga lintasan bola secara real-time. Keunggulan ini akan sangat membantu wasit dalam menganalisis pelanggaran, handball, hingga momen krusial penentuan posisi offside.
Meskipun teknologi ini sempat diperkenalkan pada bola ‘Al Rihla’ di Piala Dunia sebelumnya, Trionda membawa perubahan struktural yang signifikan. Jika pada Al Rihla chip diletakkan tepat di tengah, pada Trionda chip digeser ke bagian samping. Pergeseran posisi ini diduga kuat dilakukan untuk memberikan ruang bagi komponen baterai dan sistem pengisian daya nirkabel (wireless charging).
Mengisi Daya Bola Lewat Wireless Charging
Karena mengoperasikan sensor canggih, bola Trionda membutuhkan daya listrik. Namun, Anda tidak akan melihat kabel USB-C atau Apple Lightning di pinggir lapangan. Sensor bola ini diisi dayanya menggunakan stasiun pengisian daya nirkabel khusus.
Trionda membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk terisi penuh dan dapat beroperasi aktif selama hampir 6 jam. Menariknya, sensor ini dibekali fitur pintar yang mampu mendeteksi saat bola keluar dari garis lapangan, lalu secara otomatis mengaktifkan mode hibernasi demi menghemat daya baterai.
Minim Spekulasi, Maksimal dengan Dukungan AI dan Avatar 3D
Untuk meminimalkan kontroversi di lapangan, FIFA juga menggandeng Lenovo guna menghadirkan teknologi avatar 3D digital bagi setiap pemain. Dikombinasikan dengan puluhan kamera pelacak di stadion dan sensor dari Trionda, sistem VAR akan menampilkan figur 3D yang realistis demi keputusan yang objektif dan bebas dari tebakan.
Tidak berhenti di situ, kecerdasan buatan (AI) juga mengambil peran besar lewat program “Football AI Pro” hasil kolaborasi FIFA dan Lenovo. Layaknya ChatGPT atau Gemini, chatbot ini telah dilatih khusus menggunakan data sepak bola global.
Nantinya, seluruh tim yang bertanding memiliki akses ke alat ini untuk menganalisis performa pemain, menyusun laporan pertandingan, hingga membedah strategi lawan. Dengan seluruh integrasi ini, Piala Dunia FIFA 2026 siap mencatatkan sejarah sebagai turnamen sepak bola paling mutakhir dan berbasis teknologi tinggi sepanjang sejarah.
- Penulis: Yelki
- Editor: Hanny
