Gelap Gulita Seminggu, RSUD Pasaman Barat Sukses Bertransformasi Jadi Rumah Hantu
- account_circle Endri Caniago
- calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
- print Cetak

Poto: RSUD Pasaman Barat didokumentasikan pada Selasa malam (23/6/2026).
PASAMAN BARAT — Pemikiran awam kita biasanya menempatkan rumah sakit sebagai fasilitas publik yang paling benderang demi menjamin keselamatan nyawa manusia. Namun, jika Anda berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasaman Barat saat matahari terbenam, logika tersebut tampaknya harus disimpan rapat-rapat di dalam laci.
Fasilitas medis milik Pemerintah Daerah ini belakangan sukses menyita perhatian publik setelah “bertransformasi” visual menjadi bangunan remang-remang yang lebih mirip set film horor lokal berbiaya rendah.
Berdasarkan investigasi dan informasi yang dihimpun dari para pedagang kaki lima serta warga yang bermukim di sekitar lokasi, kondisi kegelapan ini bukanlah proyek seni semalam, melainkan kelalaian fasilitas yang sudah konsisten dibiarkan selama satu minggu terakhir.
Ketika Gerbang Utama Berubah Menjadi ‘Hutan Gaib’
Masalah utama bermula dari mogoknya pasokan cahaya pada papan nama neon box di pinggir jalan raya serta lampu eksterior gedung utama. Akibatnya, identitas rumah sakit ini mendadak hilang ditelan malam.
Dampak dari “penghematan anggaran lampu” yang kelewat ekstrem ini bukan sekadar estetika, melainkan taruhan nyawa. Sejumlah warga sekitar menjadi saksi mata saat sebuah armada ambulans rujukan dari luar daerah sampai dua kali melaju kebablasan melewati area rumah sakit.
Minimnya penanda membuat sang sopir ambulans seolah dipaksa menebak-nebak letak gerbang utama di tengah kegelapan, sebuah manuver yang tentu membutuhkan kacamata malam militer atau insting paranormal.
Teori Hubungan Linier: Pemimpin Masuk Angin, Fasilitas Ikut Meriang
Absennya cahaya di fasilitas vital ini memicu berbagai spekulasi dan sindiran tajam dari masyarakat yang saban hari menggantungkan hidup di sekitar lokasi rumah sakit. Mereka mencoba mengaitkan urusan mati lampu ini dengan kondisi dr. Jelli Isma Syartika selaku Direktur RSUD Pasaman Barat yang dikabarkan tengah fokus menjalani pengobatan pribadi.
“Kasihan kita melihat RSUD milik Pemda ini, seperti tidak bertuan. Hendaknya kalau memang sedang sakit, ya lebih baik utamakan kesehatan dulu, jangan memaksakan diri memegang jabatan. Bagaimana mau mengurus gedung tempat orang sakit kalau direkturnya saja sakit? Ya, seperti gedung yang kita lihat malam hari ini, itu mencerminkan siapa yang memimpin di sini,” celetuk Keke, seorang warga sekitar saat diwawancarai dengan nada getir, Selasa malam (23/6/2026).
Tanpa bermaksud mendahului evaluasi internal, ketiadaan nahkoda di lapangan diduga kuat membuat manajemen kehilangan radar pengawasan harian, hingga perkara sekadar mengganti bohlam lampu luar pun menjadi urusan birokrasi yang rumit.
Sisi Gelap Parkiran: Dari Urusan Medis ke Urusan ‘Biologi’
Di sisi lain, peribahasa “ada kegelapan, ada kesempatan” tampaknya berlaku nyata di area pelataran parkir RSUD Pasaman Barat. Akibat dibiarkan gulita bak hutan belantara, lahan parkir ini dikeluhkan warga telah bergeser fungsi menjadi area strategis bagi para pemburu takjil asusila.
Laporan dari warga menyebutkan adanya peningkatan aktivitas mencurigakan dari kendaraan roda empat yang parkir di sudut paling gelap. Alih-alih digunakan untuk mengantar orang sakit, mobil-mobil tersebut disinyalir kerap bergoyang di luar kendali akibat ulah sejoli yang nekat mempraktikkan simulasi pelajaran biologi secara langsung di tempat terbuka.
“Pokoknya amburadul lah!” keluh warga yang merasa fungsi institusi medis telah ternoda oleh pembiaran fasilitas ini.
Jurus Pelayanan ‘Tenang’ dan Misteri Diagnosis Kantong Kemih
Ironisnya, nuansa ‘tenang’ di luar ternyata menular ke dalam aspek pelayanan medis. Beberapa keluarga pasien mengeluhkan lambatnya respons petugas di lapangan. Alih-alih menunjukkan urgensi saat menghadapi pasien darurat yang tidak mampu berjalan, sejumlah oknum petugas medis dinilai terlalu mempraktikkan filosofi hidup santai di balik meja konter mereka.
Kompleksitas masalah di RSUD Pasaman Barat ini ditutup oleh catatan minor mengenai akurasi penegangan diagnosis penyakit. Dalam sebuah kasus beberapa bulan lalu, pihak rumah sakit sempat meyakinkan keluarga bahwa kondisi seorang pasien berada dalam status aman terkendali dan tidak mengidap penyakit serius.
Namun, akibat kondisi pasien yang terus merosot, ia akhirnya dirujuk ke faskes luar daerah. Hasilnya cukup mengejutkan pihak keluarga, pasien tersebut ternyata terbukti menderita infeksi saluran kantong kemih yang sudah masuk kategori parah.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak manajemen RSUD Pasaman Barat guna meminta konfirmasi resmi terkait kendala teknis pencahayaan eksterior serta evaluasi mutu pelayanan medis yang dikeluhkan oleh masyarakat setempat. Namun hingga saat ini, kompleks rumah sakit daerah itu tampaknya masih setia dengan konsep “redup fasilitas, redup pelayanan.”***
- Penulis: Endri Caniago
- Editor: Khairil
