Politisasi Informasi, Media Israel Sebut Balita Tiga Tahun Sebagai Milisi
- account_circle Bangun S
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Ryan Baha’u Din Abu al-Ajin, bocah malang yang ditembak oleh tentara penjajah Laknatullah
DEIR AL-BALAH — Kekerasan bersenjata oleh militer Israel kembali memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tidak berdaya di Jalur Gaza. Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Ryan Baha’u Din Abu al-Ajin, dilaporkan tewas setelah peluru tajam yang dilepaskan oleh pasukan infanteri Israel menembus kepalanya tepat di dalam dekapan sang ayah.
Peristiwa tragis tersebut terjadi saat korban bersama ayahnya, Baha’u Din Jaber Abu al-Ajin (32), dan paman iparnya, Khalid Hasan Abu Gharaba (56), sedang berjalan kaki menuju rumah mereka di daerah Abu al-Ajin setelah menghadiri silaturahmi keluarga di Wadi al-Salqa, timur Deir al-Balah.
Kepala Suku (Mukhtar) keluarga besar Abu al-Ajin, Nawaf Abu al-Ajin, mengungkapkan bahwa satu unit pasukan infanteri Israel secara sengaja mengendap-endap dan mengambil posisi tempur di dalam sebuah rumah warga yang menghadap ke jalan utama. Tanpa peringatan lisan maupun tembakan peringatan, tentara Israel langsung mengarahkan tembakan peluru tajam ke arah warga sipil tersebut dari jarak dekat.
“Peluru tajam itu menghantam tepat di bagian kepala Ryan yang saat itu sedang digendong di dada ayahnya. Ryan mengalami pendarahan hebat seketika, sementara ayahnya terkapar setelah sebutir peluru lain meremukkan kakinya,” ujar Nawaf.
Penyanderaan Enam Jam dan Pembuangan Jasad
Tindakan sewenang-wenang militer Israel berlanjut pascapenembakan. Meski dalam kondisi terluka parah dan mengalami pendarahan, Baha’u Din bersama jasad anaknya yang bersimbah darah serta Khalid Abu Gharaba langsung diseret dan ditahan di sebuah pos darurat militer terdekat.
Selama hampir enam jam, sang ayah dipaksa mendekap jasad balitanya yang mulai membeku tanpa diberikan akses bantuan medis darurat (pertolongan pertama). Setelah tengah malam, tentara Israel melepaskan Baha’u Din secara sepihak tanpa konfirmasi kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) maupun otoritas medis Palestina.
Baha’u Din yang pincang beserta jenazah anaknya dibuang begitu saja di trotoar Jalan Raya Salahuddin, dekat persimpangan Abu Holi, dengan luka robek di kaki yang hanya diikat perban alakadarnya. Sementara itu, Khalid Abu Gharaba tetap ditahan di dalam sel militer Israel.
Menjelang dini hari, sejumlah warga sipil yang melintas menemukan keberadaan Baha’u Din dan segera mengevakuasi mereka ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah. Tim dokter mengonfirmasi bahwa Ryan telah gugur akibat trauma berat di kepala, sedangkan sang ayah harus segera menjalani operasi intensif untuk menyelamatkan kakinya dari risiko amputasi.
Membongkar Fabrikasi Narasi Militer Israel
Pasca-insiden tersebut, media domestik Israel—termasuk Saluran TV Channel 14—segera merilis propaganda manipulatif. Mereka mengklaim bahwa pasukannya berhasil menggagalkan sebuah “kontra-penyergapan milisi perlawanan” di tengah Jalur Gaza, dengan narasi telah menembak mati satu anggota milisi, menangkap satu orang, dan melukai satu lainnya.
Namun, bukti empiris di lapangan dan kesaksian medis rumah sakit langsung meruntuhkan fabrikasi narasi tersebut. Korban nyata dari operasi militer yang diklaim “sukses” oleh Tel Aviv itu nyatanya adalah seorang balita berusia tiga tahun, seorang ayah pekerja sipil, dan seorang pria paruh baya.
Pembunuhan terhadap Ryan Abu al-Ajin menambah daftar panjang pelanggaran sepihak yang terus dilakukan Israel di tengah kesepakatan gencatan senjata formal yang sedang berjalan. Data internal Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan bahwa pelanggaran Israel pascaperjanjian damai kini telah merenggut nyawa sekitar 1.000 warga sipil Palestina.
- Penulis: Bangun S
- Editor: Khairil
