Klaim Sepihak? Trump Sebut Kesepakatan Program Nuklir Iran Sudah di Depan Mata
- account_circle Hanny
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer dan pengeboman terhadap Iran, mengklaim bahwa draf kesepakatan damai multilateral kini telah memasuki tahap final.
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan rencana serangan militer strategis terhadap Iran. Keputusan krusial ini diambil setelah dirinya mengklaim bahwa negosiasi dengan jajaran kepemimpinan tertinggi Teheran telah mencapai tahap akhir dan draf kesepakatan damai kini hampir difinalisasi.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Kamis waktu setempat, Trump menyatakan bahwa keputusan pembatalan tersebut diambil pasca-pembahasan intensif dengan pihak Republik Islam Iran di tingkat kepemimpinan negara tertinggi dan telah membuahkan persetujuan prinsip.
“Sebagai Presiden Amerika Serikat, saya telah membatalkan rencana serangan dan pengeboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini,” tulis Trump dalam maklumat digitalnya.
Menurut penjelasan Trump, sejumlah poin akhir dari draf perjanjian telah disetujui, baik secara prinsip maupun perincian teknis, oleh seluruh pihak yang terlibat.
Konstelasi negara yang disebut menyepakati pakta tersebut meliputi Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turkiye, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, serta beberapa perwakilan eksternal lainnya.
Kendati demikian, Trump menegaskan bahwa blokade Angkatan Laut (Navy) Amerika Serikat di wilayah strategis Selat Hormuz akan tetap dipertahankan secara ketat hingga dokumen kesepakatan resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Dia menambahkan, waktu dan lokasi penandatanganan piagam perjanjian akan diumumkan dalam waktu dekat.
Dalam wawancara eksklusif melalui sambungan telepon dengan harian New York Post, Trump memaparkan bahwa kesepakatan untuk memulai restrukturisasi pembicaraan terkait program nuklir Iran sudah “hampir sepenuhnya selesai”.
Pernyataan bernada deeskalasi ini mengemuka di tengah situasi berbalas serangan udara antara Amerika Serikat dan Iran yang sebenarnya telah memasuki hari kedua.
Sebelumnya pada Kamis pagi, Gedung Putih sempat mengeluarkan peringatan keras bahwa Washington tidak akan ragu melancarkan gempuran tambahan bernilai takaran strategis jika Teheran menolak draf kesepakatan damai.
Bahkan dalam pernyataan terdahulu, Trump sempat mengancam akan menghantam wilayah kedaulatan Iran dengan masif pada malam hari.
Ia mengeklaim sebagian besar kapabilitas pertahanan serta elemen ofensif militer Teheran telah berhasil dilumpuhkan oleh pasukannya.
Lebih jauh, Trump mengindikasikan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya memproyeksikan pengambilalihan Pulau Kharg serta sejumlah situs infrastruktur minyak vital Iran lainnya demi mengendalikan harga pasar minyak dan gas bumi global—sebuah langkah politik yang disamakan dengan doktrin kebijakan Washington terhadap Venezuela.
Kendati klaim keberhasilan diploma ini dirilis secara masif oleh pihak Gedung Putih, sejumlah laporan dari kantor berita internasional menyebutkan bahwa otoritas tinggi Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai tercapainya kesepakatan tersebut.
Persetujuan akhir dari Pemimpin Agung Iran dinilai masih menjadi penentu utama apakah pakta perdamaian ini benar-benar akan terealisasi atau justru kembali memicu ketegangan baru.
- Penulis: Hanny
