Air Bangis Ternyata ‘Kakek Sepuh’ Pendidikan Sumatera Barat
- account_circle Hanny
- calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
- print Cetak

Sekolah pribumi di Air Bangis (1910) (warna gambar telah diedit pakai AI namun masih mempertahankan posisi asli)
PASAMAN BARAT — Selama ini kita mungkin mengira bahwa pusat peradaban dan kaum intelektual di Sumatra Barat sejak zaman purba selalu berputar di Bukittinggi (Fort de Kock) atau Batusangkar (Fort van der Capellen). Mohon maaf, asumsi Anda barusan resmi terkena shaming oleh data sejarah primer.
Jauh sebelum kota-kota di pedalaman Minangkabau itu tahu cara mengeja huruf “A” sampai “Z” dalam aksara Latin, anak-anak pesisir di Air Bangis sudah curi start duluan sejak tahun 1826!
Ya, Anda tidak salah dengar. Air Bangis—yang sekarang status administratifnya “cuma” menjadi ibu kota kecamatan di Pasaman Barat—dulunya adalah trendsetter literasi modern di Pantai Barat Sumatra.
Fakta ini bukan hasil karangan bebas alias fiksi tanpa modal seperti yang sering bertebaran di blog internet, melainkan valid berdasarkan laporan koran jadul Bataviasche Courant edisi 29 November 1826.
Proyek Ambisius Hindia Belanda: Efek Samping Lidah Belibet
Semua kegaduhan literasi ini bermula dari ambisi Pemerintah Hindia Belanda yang pusing tujuh keliling melihat keberagaman tulisan di Nusantara. Ada aksara Jawa, Arab, Cina, hingga Batak.
Karena pusing memikirkan bagaimana cara mengirim surat birokrasi tanpa perlu menyewa pawang penerjemah di setiap tikungan, kompeni memutuskan satu hal: menyeragamkan semuanya ke aksara Latin dengan bahasa Melayu sebagai lingua franca alias bahasa gaul nasional saat itu.
Maka pada tahun 1826, diangkatlah seorang guru (onderwijzer) bule yang ajaibnya fasih berbahasa Melayu. Berapa gajinya? f600 (600 Gulden) per tahun! Angka yang lumayan fantastis di zaman ketika harga kopi dan lada masih bisa ditukar dengan senyuman hangat.
Guru serabutan berskala regional ini bertugas mengurus sekolah-sekolah di kota pantai, mulai dari Padang, Indrapoera, Pariaman, Natal, Tapanoeli, termasuk tentu saja sang primadona kita: Air Bangis.
Sekolah Kuno: Tanpa Seragam, Tanpa Batasan Umur
Jangan bayangkan sekolah di Air Bangis tahun 1826 itu sudah memiliki gedung estetik, lengkap dengan bel istirahat dan seragam putih-merah. Sama sekali tidak. “Sekolah” saat itu lebih mirip kelas kursus kilat atau pelatihan bagi warga lokal biar tidak buta huruf Latin dan jago menghitung memakai angka Romawi, biar kalau berdagang tidak mudah dikibuli oleh makelar VOC.
Hebatnya lagi, muridnya tidak melulu bocah berumur tujuh tahun, melainkan siapa saja yang punya nyali untuk belajar. Pemerintah Hindia Belanda bermodal besar kala itu; buku pelajaran dan alat tulis kantor (ATK) semuanya disubsidi gratis alias cuma-cuma.
Kota-kota pantai seperti Air Bangis didahulukan sebagai proyek percontohan karena posisinya sebagai gerbang utama pelabuhan sebelum kompeni mencoba merangsek ke daerah pedalaman (inland).
Air Bangis Sungkem? Kebalik, Bukittinggi yang Harus Sungkem!
Kalau melihat linimasa sejarah yang digali dari sumber primer, wilayah pedalaman seperti Fort de Kock (Agam/Bukittinggi) dan Fort van der Capellen (Tanah Datar/Batusangkar) baru mencicipi pendidikan aksara Latin pada tahun 1846. Jaraknya dua dekade alias 20 tahun setelah Air Bangis melek huruf! Bahkan wilayah Fort Elout (Mandailing/Panyabungan) baru menyusul sekitar tahun 1850.
Siapa aktor intelektual di balik penyebaran sekolah ke daerah pedalaman tersebut? Jawabannya adalah CPJ Steinmetz, Residen pertama Residentie Air Bangis yang menjabat sejak tahun 1839.
Jadi, kalau dirunut secara silsilah birokrasi kolonial, pejabat dari Air Bangis-lah yang menularkan “virus” pendidikan modern ke Bukittinggi dan sekitarnya, bukan sebaliknya. Langkah heroik Steinmetz ini kemudian ditiru oleh Asisten Residen Mandailing en Angkola, AP Godon, pada tahun 1850 di Tanobato.
Jadi, jika hari ini Anda main ke Air Bangis dan melihat papan nama kotanya yang megah di tepi pantai, ingatlah satu hal: Anda sedang berdiri di tanah para pionir literasi.
Tempat di mana huruf Latin pertama kali diajarkan di bumi Sumatra Barat, sementara daerah lain mungkin masih sibuk menerka-nerka cara mengeja nama Gubernur Jenderal Belanda. Sebuah tamparan keras bagi narasi-narasi sejarah hasil karangan bebas tanpa data!
- Penulis: Hanny
