Krisis Gaza: Kepala Anestesi Rumah Sakit Al-Yafa Gugur, Pemukim Israel Amuk Tepi Barat
- account_circle Bangun S
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- print Cetak

Warga Palestina di Khan Younis berjalan di antara bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan Israel, 29 Mei 2026 [Abdel Kareem Hana/AP]
GAZA — Hari keempat perayaan Idul Adha di Palestina diwarnai duka mendalam. Seorang dokter dilaporkan tewas dan tiga warga sipil lainnya terluka akibat serangan terukur militer Israel di Gaza tengah. Di saat yang sama, kelompok pemukim Israel melancarkan aksi perusakan terhadap rumah dan properti milik warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Rangkaian kekerasan pada Sabtu ini memicu sorotan tajam karena terjadi di tengah kesepakatan “gencatan senjata” yang didukung oleh Amerika Serikat. Kesepakatan yang diinisiasi sejak Oktober tahun lalu tersebut sejatinya bertujuan untuk menghentikan agresi militer Israel di Jalur Gaza.
Kepala Bagian Anestesi Gugur dalam Tugas
Korban tewas diidentifikasi sebagai Dr. Jamal Abu Aoun, Kepala Bagian Anestesi di Rumah Sakit Medis Al-Yafa di Deir al-Balah. Ia gugur setelah serangan pesawat tak berawak (drone) milik militer Israel menghantam kerumunan warga sipil di dekat Rumah Sakit Martir Al-Aqsa.
“Jenazah Jamal Abu Aoun dan tiga korban luka, termasuk seorang anak-anak, telah dievakuasi ke rumah sakit tak lama setelah serangan drone tersebut,” ungkap sumber medis setempat kepada kantor berita Anadolu.
Selain serangan udara, militer Israel dilaporkan terus membombardir wilayah timur dan selatan kota Khan Younis menggunakan artileri berat, serta menargetkan kamp pengungsian al-Bureij di Gaza tengah. Data dari Kantor Media Gaza menunjukkan bahwa sedikitnya 922 warga Palestina telah tewas dan 2.786 lainnya terluka sejak kesepakatan gencatan senjata diimplementasikan.
Kesaksian Tentara Israel: ‘Nyawa Manusia Tidak Berharga’
Seiring berlanjutnya konflik, sebuah laporan investigasi dari kantor berita Associated Press (AP) mengungkap kesaksian mengejutkan dari sejumlah tentara cadangan Israel yang sempat bertugas di Gaza. Mereka membeberkan adanya iklim dehumanisasi, aturan keterlibatan yang sangat longgar, dan pembiaran aksi pembunuhan terhadap warga sipil sipil.
Para prajurit mengakui diperintahkan untuk langsung menembak siapa saja yang mendekati atau melintasi “Garis Kuning”—garis batas wilayah operasi militer yang sering kali tidak ditandai dengan jelas.
“Ada perasaan umum di lapangan bahwa nyawa manusia tidak berharga,” aku salah seorang prajurit cadangan kepada AP. Prajurit lain bahkan menceritakan bagaimana rekan-rekan pasukannya bersorak merayakan kehancuran sebuah mobil sipil berisi warga Palestina yang tewas seketika akibat tembakan mereka.
Sejak perang meletus secara masif pada Oktober 2023, diperkirakan sedikitnya 72.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 172.000 lainnya mengalami luka-luka.
Eskalasi Serangan Pemukim di Tepi Barat
Kekerasan tidak hanya memuncak di Gaza. Di wilayah Tepi Barat yang diduduki, kelompok pemukim sayap kanan Israel dilaporkan menyerang permukiman warga sipil di kota Beita, selatan Nablus. Berdasarkan laporan kantor berita Wafa, mereka melempari rumah-rumah penduduk dengan batu dan merusak sejumlah kendaraan pribadi.
Sementara di Tepi Barat bagian selatan, tepatnya di kawasan Khirbet el-Muraq, Masafer Yatta, aksi vandalisme pemukim menyasar lahan produktif petani Palestina, termasuk melakukan perusakan terhadap pohon-pohon zaitun.
Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat eskalasi yang mengkhawatirkan dengan adanya lebih dari 540 aksi serangan serupa oleh pemukim sepanjang bulan April saja, yang meliputi kekerasan fisik, pembakaran ladang, hingga penyitaan bangunan pertanian.
Sejak akhir 2023, akumulasi tindakan represif oleh pasukan keamanan dan pemukim ekstremis di Tepi Barat telah menewaskan 1.168 warga Palestina dan memaksa sekitar 33.000 orang mengungsi dari tanah kelahiran mereka.
- Penulis: Bangun S
- Editor: Hanny
