Program Tiga Juta Rumah Jadi Solusi Hunian Layak Di Pasaman Barat
- account_circle Irfansyah P
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Program Tiga Juta Rumah di Pasaman Barat Resmi Digeber, ASN Jomblo dan Warga Kurang Mampu Siap-Siap Punya Hunian Layak!
PASAMAN BARAT – Bagi Anda yang sampai hari ini masih berstatus sebagai “Kontraktor Profesional”—bukan kontraktor proyek jembatan, melainkan hobi pindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain karena masa sewa habis, ada angin segar yang siap mengembuskan harapan baru.
Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat secara resmi mengajak seluruh elemen dan pemangku kepentingan untuk merapatkan barisan demi menyukseskan Program Tiga Juta Rumah.
Bukan kaleng-kaleng, agenda besar ini merupakan program strategis nasional yang menjadi bagian langsung dari implementasi visi besar Asta Cita presiden RI.
Sosialisasi gerakan bangun hunian massal ini ditandai dengan kumpul-kumpul serius tapi santai di Auditorium Kantor Bupati Pasaman Barat pada Rabu (1/7). Jadi, bagi Anda yang sudah lelah menghadapi omelan pemilik kontrakan tiap awal bulan, ini saatnya menyimak peluang emas ini baik-baik!
Kolaborasi Total: Jangan Ada OPD yang Asyik Tidur Siang!
Acara sosialisasi ini dibuka oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Setdakab Pasaman Barat, Harnina Syahputri, yang hadir gagah mewakili Bupati.
Dalam pidatonya yang tegas dan berapi-api, Harnina mengingatkan bahwa menyediakan rumah layak huni untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu urusannya berat. Program ini mustahil sukses kalau jalannya sendiri-sendiri mirip jomblo tersesat di pasar malam.
Oleh karena itu, jajaran komando di Dinas Perkim beserta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya diminta untuk tidak malas-malasan dan segera mengoptimalkan peran sesuai tupoksi masing-masing.
Mulai dari urusan perencanaan pembangunan, utak-atik penataan ruang, kecepatan pelayanan perizinan, sampai urusan menggelar infrastruktur dasar harus dikerjakan dengan mode fast respon agar program berjalan efektif serta tepat sasaran.
“Rumah layak huni itu tidak cuma sekadar ada dinding dan atapnya saja, tapi juga wajib ditunjang oleh lingkungan permukiman yang sehat, bebas banjir, dan memadai,” tegas Harnina.
Tak lupa, instansi seperti BPN, PLN, dan PDAM juga dicolek agar ikut memberikan kepastian hukum atas tanah serta ketersediaan aliran listrik dan air bersih. Jangan sampai rumahnya sudah jadi, tapi penghuninya terpaksa pakai lilin dan menampung air hujan!
Warning untuk Camat, Wali Nagari, dan Developer: Data Harus Jujur, Konstruksi Harus Kokoh!
Urusan data sering kali menjadi drama tersendiri di negeri ini. Sadar akan potensi ruwetnya birokrasi, Harnina menitipkan pesan khusus kepada para Camat dan Wali Nagari di wilayah Pasaman Barat.
Mereka diwajibkan melakukan pendataan calon penerima manfaat secara objektif dan akurat. Tolong coret daftar nama kerabat, sepupu, atau mantan pacar yang aslinya sudah kaya raya agar dana bantuan ini tidak nyasar ke alamat yang salah.
Di sisi lain, para pengembang perumahan alias developer juga mendapat peringatan keras. Jangan hanya bernafsu mengejar target kuantitas unit demi mengejar cuan, lalu melupakan kualitas bangunan. Ingat, wilayah Pasaman Barat tercatat sebagai daerah yang rawan gempa bumi.
Jadi, aspek keamanan konstruksi hukumnya adalah wajib fardu ain alias tidak boleh ditawar-tawar lagi! Jangan sampai baru digoyang gempa skala kecil, rumahnya sudah auto roboh kemana-mana.
Peluang Emas Buat ASN yang Masih Menumpang di Rumah Mertua
Nah, ini dia bagian paling menarik yang bikin telinga para pegawai negeri mendadak tegak. Program Tiga Juta Rumah ini ternyata bukan cuma buat masyarakat umum, tapi juga menjadi karpet merah bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN), baik yang berstatus PNS maupun PPPK.
Bagi ASN yang sampai hari ini belum punya rumah sendiri dan masih betah menumpang di rumah mertua (dengan segala tekanan batinnya), pemda mengimbau agar segera memanfaatkan momen ini.
Berbagai kemudahan dan fasilitas khusus sudah disiapkan oleh pemerintah untuk membantu para abdi negara ini memiliki aset properti pertama mereka.
Lagipula, program ini sejatinya adalah investasi jangka panjang untuk mendongkrak kualitas hidup masyarakat, memperkuat ketahanan keluarga, dan melahirkan generasi penerus yang unggul.
Tunggu apa lagi? Daripada gaji habis untuk hal-free yang tidak jelas, lebih baik dialokasikan untuk cicilan rumah masa depan yang nyata!
- Penulis: Irfansyah P
