Muharram, Bulan Haram yang Sarat Nilai Ibadah dan Hikmah
- account_circle Said Khairil Ibad
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Bulan Muharram (gambar AI)
Jakarta – Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Selain menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram juga termasuk dalam empat bulan suci atau asyhurul hurum yang dimuliakan Allah SWT.
Bagi umat Islam, Muharram tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi spiritual, meningkatkan ketakwaan, serta memperbaiki kualitas kehidupan pribadi maupun sosial.
Dalam penanggalan Hijriah terdapat 12 bulan, dan Allah SWT menetapkan empat bulan sebagai bulan-bulan yang dimuliakan. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Tiga di antaranya berlangsung secara berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan Rajab berada di antara Jumadal Ula dan Sya’ban.
Sejarah Penamaan Muharram
Secara historis, sebelum kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bulan Muharram dikenal dengan nama Shafar Awal karena posisinya berada sebelum bulan Shafar.
Ketika penyusunan kalender Islam dilakukan dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun, Umar bin Khattab kemudian menetapkan nama Muharram untuk bulan tersebut.
Secara bahasa, Muharram berarti “diharamkan” atau “dilarang”. Penamaan ini berkaitan dengan larangan peperangan yang berlaku pada bulan tersebut, sebuah tradisi yang telah dikenal masyarakat Arab sejak masa sebelum Islam dan kemudian diperkuat dalam syariat Islam.
Dalam tafsir yang dinukil dari Ibnu Katsir, Muharram disebut sebagai bulan yang memiliki kehormatan dan kemuliaan yang tinggi. Pada masa lampau, masyarakat Arab memandang bulan ini sebagai waktu yang tidak layak dicemari oleh konflik maupun peperangan.
Sebaliknya, bulan Shafar dikenal sebagai masa ketika masyarakat Arab melakukan perjalanan jauh dan peperangan, sehingga rumah-rumah mereka kerap kosong karena ditinggalkan penghuninya.
Momentum Memaknai Hijrah
Muharram tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Bulan ini menjadi pengingat akan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang mengandung makna perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Nilai hijrah dipahami sebagai proses transformasi diri dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih mulia. Hijrah juga mengajarkan perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari ketidakadilan menuju keadilan, serta dari kelalaian menuju ketakwaan.
Karena itu, pergantian tahun Hijriah sering dimanfaatkan umat Islam sebagai momentum evaluasi diri sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran agama.
Hari Asyura dan Peristiwa Bersejarah
Salah satu momen penting dalam bulan Muharram adalah Hari Asyura yang diperingati setiap tanggal 10 Muharram.
Dalam sejarah Islam, Hari Asyura memiliki sejumlah peristiwa penting. Di antaranya adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Selain itu, tanggal tersebut juga dikenang sebagai hari terjadinya tragedi Karbala yang menimpa cucu Rasulullah SAW, Imam Husain RA.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjadikan Hari Asyura memiliki makna sejarah dan spiritual yang kuat dalam tradisi Islam.
Dianjurkan Memperbanyak Amal Saleh
Muharram juga dikenal sebagai bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Selain meningkatkan ibadah, umat Islam juga dianjurkan memperkuat kepedulian sosial, membantu sesama, mempererat tali silaturahmi, serta memperbanyak amal kebajikan.
Para ulama menilai Muharram sebagai waktu yang tepat untuk memperbarui niat, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.
Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, Muharram menjadi bulan yang sarat makna dan hikmah. Kehadirannya mengingatkan umat Islam untuk menjadikan setiap pergantian waktu sebagai kesempatan memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta menapaki kehidupan yang lebih baik demi meraih ridha Allah SWT.
- Penulis: Said Khairil Ibad
- Editor: Hanny
