Israel Menangkap 100 Warga Palestina dalam Seminggu, Intimidasi di Tepi Barat Kian Masif
- account_circle Bangun S
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- print Cetak

Tentara Israel menahan seorang pria Palestina saat mereka melakukan penggerebekan di Anata, di Tepi Barat yang diduduki Israel [File: Ammar Awad/Reuters]
RAMALLAH — Eskalasi kekerasan dan tindakan sewenang-wenang penjajah di wilayah Tepi Barat yang diduduki terus meluas. Laporan terbaru dari Organisasi Tahanan Palestina (PPS) mengungkapkan bahwa militer Israel menangkap 100 warga Palestina lebih hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir. Gelombang penangkapan ini mencakup anak-anak, jurnalis, hingga mantan tahanan, di tengah berlanjutnya aksi pogrom dan penggerebekan brutal di seluruh wilayah pendudukan.
Dalam pernyataan resminya pada Kamis, kelompok hak asasi manusia Palestina yang rutin memantau kondisi para tahanan menegaskan bahwa pasukan Israel sengaja mengintensifkan operasi penahanan skala besar. Tindakan tersebut diwarnai berbagai bentuk pelanggaran berat HAM, mulai dari interogasi mendadak di lapangan, penyerangan fisik, ancaman kekerasan terhadap keluarga korban, hingga dugaan pembunuhan di luar hukum (extrajudicial killing).
“Pasukan zionis melakukan penggerebekan rumah secara masif, menggeledah serta merusak properti milik warga, bahkan dalam beberapa kasus menduduki kediaman sipil untuk dijadikan pos militer sementara,” tulis pernyataan PPS.
Laporan tersebut juga membeberkan bahwa warga sipil kerap disandera hanya untuk menekan kerabat mereka yang tengah dicari militer. Dalam penggerebekan di seluruh kawasan pemukiman, anak-anak turut diseret dan ditahan tanpa proses hukum yang transparan.
Jurnalis dan Mantan Tahanan Turut Disasar
Aksi penangkapan beruntun yang dilancarkan pasukan Israel menyasar berbagai elemen masyarakat Palestina. Salah satu figur yang kembali ditangkap adalah Ahmad al-Sayfi, mantan tahanan asal Birzeit yang sebenarnya baru saja dibebaskan melalui kesepakatan pertukaran tahanan beberapa waktu lalu.
Sektor media tak luput dari intimidasi militer pendudukan. Jurnalis Muath Amarneh dan Sabri Jibril masuk dalam daftar warga yang digelandang pasukan militer, bersama sejumlah mantan tahanan politik lainnya. Penangkapan para insan pers ini dinilai sebagai upaya pembungkaman informasi terkait kejahatan perang yang terjadi di lapangan.
Selain penangkapan oleh tentara, PPS menyoroti makin brutalnya serangan dari para pemukim ilegal Yahudi terhadap warga sipil Palestina dan harta benda mereka. Akses jalan diblokade, kendaraan dihancurkan, dan pemukiman warga diserbu. Seluruh aksi anarkis para pemukim ini berlangsung di bawah pengawalan dan perlindungan penuh pasukan zionis.
Data akumulatif PPS mencatat angka yang mengerikan: lebih dari 25.000 warga Palestina di Tepi Barat telah ditahan, ditambah ribuan lainnya di Jalur Gaza, sejak agresi dan perang genosida yang dilancarkan Israel pecah pada Oktober 2023.
Serbuan Subuh dan Pengrusakan Pemukiman
Di lapangan, gempuran militer terus berlangsung tanpa henti. Kantor berita Palestina, Wafa, melaporkan bahwa dalam serangan subuh pada Kamis, tentara pendudukan menyergap kota Burqa di barat laut Nablus selama enam jam penuh. Mereka menggeledah rumah-rumah warga secara paksa sebelum akhirnya menahan 15 warga setempat. Kota Burqa sendiri telah menjadi sasaran empuk serangan berulang pemukim ilegal dan aksi pembongkaran rumah oleh militer dalam beberapa pekan terakhir.
Di lokasi lain, pasukan zionis menahan seorang pemuda bernama Salloum Radwan dari kota Azzun, sebelah timur Qalqilya, serta menyita truk miliknya secara sepihak. Sementara itu, laporan koresponden Al Jazeera, Givara Budeiri, dari Ramallah menyebutkan bahwa pasukan khusus militer juga menerobos masuk ke kota Beitunia. Mereka mendobrak sebuah apartemen, merusak fasilitas di dalamnya, dan menyeret dua pria Palestina ke dalam penjara militer sebelum akhirnya ditarik mundur.
Pengrusakan fisik fasilitas sipil juga terjadi di Battir, sebelah barat Betlehem, di mana satu unit rumah warga diratakan dengan tanah. Dalam keterangan resminya, militer penjajah mengklaim telah menangkap sedikitnya 20 warga Palestina di kamp pengungsi Arroub, selatan Betlehem, dengan tuduhan sepihak mengenai rencana serangan.
Provokasi Pemukim Yahudi di Kompleks Masjid Al-Aqsa
Eskalasi di Tepi Barat kian memanas seiring meningkatnya aksi provokasi kelompok pemukim di Yerusalem Timur yang diduduki. Pada Kamis pagi, rombongan pemukim Yahudi menerobos kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan ritual keagamaan secara sepihak di lokasi suci umat Islam tersebut.
Pemerintah Provinsi Yerusalem mengeluarkan peringatan keras bahwa para pemukim sengaja memanfaatkan momen hari raya Yahudi untuk merubah status quo situs suci tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk menggeser pembagian situs dari sekadar pembagian waktu (temporal division) menuju pembagian ruang secara permanen (spatial division).
Peringatan senada dilontarkan oleh Kepresidenan Palestina dan Kementerian Luar Negeri. Mereka menegaskan kembali bahwa seluruh kompleks Al-Aqsa adalah situs suci milik umat Islam yang wajib dilindungi dari segala bentuk penyerobotan. Di sisi lain, polisi penjajah justru merespons situasi ini dengan menambah pengerahan pasukan di seantero Yerusalem dan Tepi Barat, yang kian memperketat ruang gerak warga Palestina.
Disclaimer: Artikel berita ini disusun berdasarkan penghimpunan data dan laporan resmi dari Organisasi Tahanan Palestina (PPS), kantor berita Wafa, media Al Jazeera, serta pernyataan resmi otoritas terkait. Perkembangan situasi keamanan dan jumlah korban di wilayah pendudukan Tepi Barat dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika lapangan.
- Penulis: Bangun S
- Editor: Khairil
