Produksi Capai 196 Ribu Ton, Pemkab Pasbar Dorong Sektor Jagung Jadi Motor Ekonomi Daerah
- account_circle Irfansyah P
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

Sekretaris Daerah Kabupaten Pasaman Barat, Doddy San Ismail (tengah, berkemeja putih), sedang memberikan sambutan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah Komoditi Jagung, di Auditorium Kantor Bupati Pasaman Barat, Rabu (20/5).
PASAMAN BARAT – Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat terus berkomitmen mendorong penguatan sektor jagung sebagai komoditas unggulan daerah. Langkah strategis ini ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah Komoditas Jagung yang diselenggarakan di Auditorium Kantor Bupati Pasaman Barat, Rabu (20/5).
Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah Pasaman Barat, Doddy San Ismail, yang hadir membacakan sambutan Bupati, menegaskan bahwa peta jalan pengembangan jagung di Pasaman Barat tidak boleh hanya terpaku pada peningkatan produksi. Lebih dari itu, diperlukan penanganan komprehensif dari hulu ke hilir.
“Pengembangan sektor jagung saat ini harus mencakup perluasan akses permodalan, penguatan kelembagaan petani, tata kelola pemasaran, hingga pengembangan industri hilir. Diperlukan kolaborasi dan sinergi dari seluruh pihak agar sektor unggulan ini mampu berkembang secara optimal dan berkelanjutan,” ujar Doddy.
Berdasarkan data terkini, Pasaman Barat masih mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sentra produksi jagung terbesar di Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2025, daerah ini mencatatkan total produksi jagung sebesar 196.101 ton, dengan luas tanam mencapai 31.290 hektare dan luas panen 31.923 hektare. Adapun wilayah yang menjadi lumbung utama komoditas ini tersebar di empat kecamatan, yaitu Kinali, Luhak Nan Duo, Pasaman, dan Ranah Batahan.
Menjawab Tantangan Sektor Pertanian
Kendati memiliki potensi yang masif, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat tidak menampik adanya dinamika dan tantangan di lapangan. Data periodik tahun 2023 hingga 2025 menunjukkan adanya tren penurunan pada luas tanam, luas panen, serta total produksi jagung.
Doddy mengungkapkan, fluktuasi kondisi tersebut dipicu oleh beberapa faktor krusial, di antaranya kelangkaan pupuk di tingkat petani, keterbatasan akses terhadap benih unggul, serta menyusutnya lahan integrasi antara tanaman jagung dengan area perkebunan.
Oleh karena itu, FGD ini dinilai menjadi momentum krusial untuk merumuskan solusi konkret sekaligus memperkuat regulasi kebijakan sektor pertanian berbasis komoditas lokal.
“Kita perlu menyatukan ide, gagasan, dan langkah strategis agar komoditas jagung dapat menjadi sektor unggulan yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasaman Barat,” tambahnya.
Dorong Edukasi dan Inklusi Keuangan Petani
Selain fokus pada teknis pertanian, Pemkab Pasaman Barat juga menyoroti pentingnya aspek edukasi dan inklusi keuangan bagi para petani. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan literasi petani dalam mengelola manajemen usaha tani, memanfaatkan fasilitas kredit produktif secara bijak, serta memperkuat kapasitas ekonomi rumah tangga tangga petani.
Pemerintah daerah menyatakan kesiapannya untuk membuka karpet merah bagi investasi dan kerja sama lintas sektor demi memperkokoh fundamental ekonomi daerah.
“Mari jadikan FGD ini sebagai langkah memperkuat sinergi dan menghadirkan kebijakan serta program yang benar-benar berpihak kepada masyarakat dan pembangunan ekonomi daerah,” pungkas Doddy.
Agenda strategis ini turut dihadiri oleh Plt Asisten II Ekadiana Oktavia, Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Sumatera Barat Risdawati beserta jajaran, perwakilan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Perum Bulog, pelaku industri jasa keuangan, penyuluh pertanian, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta para pelaku usaha di ekosistem komoditas jagung.***
- Penulis: Irfansyah P
- Editor: Hanny
